AL-MUSHANNAF KARYA
IBNU SYAIBAH (159-235 H/ 775-849 M)
A. PENGERTIAN DAN MACAM-MACAM MUSHANNAF
Al-Mushannafat
adalah salah satu jenis dari kitab hadis yang disusun berdasarkan bab-bab fiqih
yang meliputi hadis-hadis marfu’, mauquf, dan maqthu’. Sehingga dalam kitab
tipe ini akan banyak ditemukan perkataan-perkataan Nabi SAW, perkataan sahabat,
fatwa tabi’in, dan terkadang fatwa tabi’ tabi’in. Di sinilah letak perbedaannya
dengan kitab hadis tipe sunan yang sangat jarang berisi hadis-hadis mauquf dan
maqthu’. Di antara kitab mushannafat yang terkenal adalah al-mushannaf
karya Abu Bakr ibn Abi Syaibah al-Kufi, al-mushannaf karya Abu Bakr Abd
al-Rozzak ibn Hammam al-Shan’ani, al-mushannaf karya Baqi ibn Makhlad
al-Qurthubi, al-mushannaf karya Abu Shofyan Waqi’ ibn Jarrah al-Kufi, al-mushannaf
karya Abi Salamah Hammad ibn Salamah al-Bashri dan lain sebagainya.[1]Salah
satu kitab mushannaf yang terkenal adalah Mushannaf Ibnu Syaibah dan
akan di bahas lebih dalam.
B. BIOGARFI
1. Riwayat Hidup Ibnu Syaibah
Nama lengkap Ibnu Syaibah adalah al-Imam al-Hafizh al-Tsiqah
Abi Bakr ‘Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim bin Utsman bin Abi Syaibah al-‘Abasiy
al-Kufi. Beliau
seorang imam yang alim, pemimpin para hafizh, penulis kitab-kitab besar seperti
Al-Musnad, Al-Mushannaf, dan At-Tafsir. Kuniyahnya adalah Abu Bakr Al-‘Absi.
Beliau lahir dan wafat di Kufah. Saudara beliau, ‘Utsman bin Abi Syaibah dan Al-Qasim
bin Abi Syaibah. Al-Hafizh Ibrahim bin Abi Bakr adalah anak beliau, Al-Hafidh
Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman adalah keponakan beliau. Mereka semua adalah
perbendaharaan ilmu. Abu Bakr yang paling terhormat di kalangan mereka. Beliau
termasuk aqran (yang berdekatan secara umur dan isnad) Imam Ahmad, Ishaq
bin Rahawaih, Ali bin Al-Madini dari sisi umur, kelahiran, dan hapalannya.
Yahya bin Ma’in adalah yang paling tua beberapa tahun di antara mereka. Beliau
menuntut ilmu sejak masih kecil. Guru beliau yang paling tua adalah Syarik bin
Abdillah Al-Qadli.
Beliau lahir pada tahun 159 H/ 775 M, dan wafat pada malam kamis, tahun 235 H/ 849 M.[2] Menurut
Al-Bukhori Ibnu Syaibah meninggal pada bulan Muharram tahun 235 H. Ibnu Syaibah adalah salah seorang ahli
hadis yang disepakati oleh ahli ilmu.
Abul Ubaid al-Qasim berkata, “Ilmu terhenti pada 4 orang yaitu Ibn Abi Syaibah
orang yang cakap penyebut hadits, Ahmad adalah orang yang paling pandai
memahami hadist, Yahya orang yang paling banyak mengumpulkan hadits dan Ali bin
al-Madiny orang yang alim akan hadits. Sholeh bin Muhammad berkata
“Orang yang paling hapal takala ada Mudzakarah adalah Abu Bakar bin Abi Syaibah”.
Abu Zur’ah ar Razy berkata, “Belum pernah saya melihat orang yang hapal
dari pada Abu Bakar bin Abi Syaibah”.
Imam
Ahmad bin Hanbal berkata: “Abu Bakr seorang yang sangat jujur
(shaduq) dan lebih aku sukai daripada saudaranya, ‘Utsman”.[3]
Beliau mempunyai aqidah seperti aqidah ahli hadis yaitu
sunni sufi dan di sebutkan dalam kitab Ushulul I’tiqad Ahlu Sunnah wal
Jama’ah.[4]
2. Guru dan Murid
Ibnu syaibah mempunyai banyak guru, namun
yang termasyhur berjumlah 51, di antaranya adalah:[5]
a. Ismail bin Ibrahim (Ibnu ‘Aliyah), w. 193 H
b. Aswad bin Amir, w. 208 H
c. Jarir bin Abdul Hamid, w. 188 H
d. Hatim bin Ismail, w. 186 H
e. Husein bin Ali al-Ja’fi, w. 203 H
f. Hafs bin Giyas, w. 194 H
g. Hammad bin Asamah, w. 201 H
h. Holid bin Makhlad, w. 213 H
i.
Rauh bin Ibadah, w. 205 H
j.
Zaid bin Hubab, w. 230 H
Di antara murid Ibnu Syaibah adalah:[6]
a. Imam Ahmad bin Hanbal, pemilik kitab musnad
b. Imam Al-Bukhari, pemilik kitab shahih, Muhammad bin Ismail al-Ja’fi
c. Muhammad bin Muslim (Imam Muslim)
d. Abu Daud, pemilik kitab sunan, Sulaiman bin Asy’ats as-Sijistani
e. Ibnu Majah, pemilik kitab sunan, Muhammad bin Yazid al-Qazwaini
f. Abu Bakr bin Abi ‘Ashim
g. Baqi bin Makhlad
h. Al-Baghawi, pemilik kitab tafsir
i.
Hasan ibn Sufyan al-Syaibani
j.
Abdullah bin Ahmad bin Hanbal
k. Abdullah bin Abdurrahman ad-Darimi
Diantara yang mengeluarkan hadis untuknya dengan
perantaraan Ahmad adalah an-Nasa’iy, Ahmad bin Hanbal, Muhammad ibnu Sa’ad, Abu
Zur’ah, Abu Hatim Abdullah bin Ahmad Ibrahim al-Harby.
Al-Bukhari meriwayatkan hadis darinya sebanyak 30 hadis.
Sementara muslim sebanyak 1540 hadis.[7]
3. Komentar Ulama[8]
a. Abu hatim dan ibnu kharaz menilainya tsiqah
b. ‘Ajali mengatakan bahwa ia tsiqah dan hafizh al-hadits
c. Ibnu Hibban menyebutkan dalam kitabnya, al-Tsiqat
d. Sementara al-Qani’ menilainya tsiqah tsabat
4. Karya-karya
Al-Khotib
berkata, “Abu Bakr adalah orang yang yang meyakinkan ilmunya (mutqin),
dan orang yang kuat hafalannya (hafizh), penyusun mushannaf, musnad,
ahkam dan tafsir.”[9]
a. Musnad Ibnu Abi Syaibah,
Kitab ini terdiri dari 2 juz dan memuat 999
hadis shahih, hasan dan dhaif. Kitab ini hanya berisi hadis Rasulullah SAW.
Pentahqiq: ‘Adil bin Yusuf al-‘Azazi dan
Ahmad bin Farid al-Mazidi.
Penerbit: Dar al-Watan, Riyad, 1418 H/ 1997
M.[10]
b. Al-kitab al-Mushannaf fi al-Ahadits wa al-Atsar
Kitab ini terdiri dari 15 jilid dan memuat
19.789 hadis shahih, hasan, dan dhaif. Di samping memuat hadis Nabi SAW, kitab
ini juga memuat ribuan atsar sahabat dan tabi’in.
Pentahqiq: Mukhtar Ahmad an-Nadwi
Penerbit: Dar al-Salafiyyah[11]
c.
At-Tarikh. Kitab ini ada di Berlin dengan nomor
perpustakaan 9409.
d.
Kitaabul-Iimaan.
e.
Kitaabul-Adab.
f.
Tafsir Ibnu Abi Syaibah.
g.
Kitaabul-Ahkaam.
h.
Kitaab Taabul-Qur’an.
i.
Kitaabul-Jumal.
j.
Kitaabur-Radd ‘alaa Man Radda ‘alaa Abi
Hanifah.
k.
Kitaabul-Futuh.[12]
C. KITAB AL-MUSHANNAF IBNU SYAIBAH (159-235 H/ 775-849 M)
Kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah
adalah satu dari sekian kitab-kitab yang tersusun di dalamnya hadits-hadits
ahkam, bab-bab tentang fiqh, dan dikenal dengan sebutan mushannaf, disebut
dengan nama ini sebagaimana kitab-kitab yang terkandung di dalamnya
sunah-sunah, atau apa yang berkaitan dengannya, sebagian dinamakan dengan
Mushannaf, ada juga jami’an, dan lain sebagainya. Sebagaimana ucapan
al-Kattani. Imam Malik menamakan kitabnya Muwaththa’, kecuali Ibnu Abi Syaibah
tidak menamakan kitabnya dengan sebuah nama sebagaimana kebanyakan orang pada
masanya.
Al-hafizh Ibnu Katsir berkata,
“Ibnu Syaibah adalah Pemilik Mushannaf yang belum ada seorang pun menyusun yang
semisalnya, baik sebelum dan sesudahnya. Pensifatan (ungkapan pujian) ini yang
berasal dari Ibnu Katsir menjelaskan kita betapa berharga dan pentingnya kitab
ini, maka Ibnu Katsir yang merupakan ahli hadits dan orang yang berilmu luas,
tidak mungkin mengutarakan pendapat seperti ini kecuali kepada kitab yang
memang berhak mendapatkan pujian seperti itu. Keunggulan kitab ini ada pada
pemahaman dan pemaparannya yang banyak dari hadits-hadits, atsar-atsar dan
pendapat tabi’in yang membuatnya menjadi rujukan dasar pada pendapat ahli fatwa
sari sahabat dan tabi’in. [13]
Dalam muqaddimah kitabnya, Ibnu
Syaibah tidak menjelaskan metode yang di gunakan, akan tetapi ulama setelahnya
berusaha menjelaskan metodenya.[14]
Kitab mushannaf karya Ibnu
Syaibah di awali dari jilid pertama yaitu, kitab thaharah dengan nomor
hadits 1-2135, jilid ke dua yaitu kitab sholat jum’at dengan nomor
2136-5632, jilid ke tiga yaitu, kitab shalat dua hari raya dan semua
shalat dengan nomor 5633-8956, jilid ke empat yaitu, kitab puasa dan jenazah
dengan nomor 8957-12263, jilid ke lima yaitu, kitab iman dan nudzur
dengan nomor 12267-16139, jilid ke enam yaitu, kitab jihad dan nikah
dengan nomor 16140-19902, jilid ke tujuh yaitu, kitab jual beli dan berburu
dengan nomor 19903-23864, jilid ke delapan yaitu, kitab pengobatan dan adab
dengan nomor 23865-27244, jilid ke sembilan yaitu, kitab diyat dan do’a
dengan nomor 27245-30514, jilid ke sepuluh yaitu, kitab fadhailul qur’an
dengan nomor 30515-33128, jilid ke sebelas yaitu, kitab dzikir dengan nomor
33129-35229, jilid ke duabelas yaitu, kitab zuhud dengan nomor
35230-37549, jilid ke tiga belas yaitu, kitab al-maghaziy dengan nomor
37550-38957.
D. Hadis-Hadis dalam Kitab Mushannaf Ibnu Syaibah
1. Hadis Marfu’[15]
2. Hadis Mauquf[16]
3. Hadis Maqthu’[17]
DAFTAR PUSTAKA
http://www.alsofwah.or.id/cetaktokoh.php?id=206,
di akses tanggal 22 Maret 2015
Isra, Yunal, Modul Pelatihan Takhrij Hadis,
Darus-Sunnah International Institute For Hadith Science, 2013
Lutfi Fathullah, Ahmad, Hadis dan Ilmu Hadis, Jakarta:
PKH, t.t.
Syaibah, Ibnu, Mushannaf Ibnu Syaibah, Kairo:
Al-Faruq Al-Haditsiyah, 2008
Mushannaf Ibnu Syaibah,
Bairut: Daarul Fikr, 1409 H
Usman, Magfur, Anotasi Kitab-Kitab Hadis, Jakarta:
t.p., 2006
[1]
Yunal Isra, Modul Pelatihan Takhrij Hadis (Darus-Sunnah International
Institute For Hadith Science, 2013), h. 19
[2]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, (Bairut: Daarul Fikr, 1409 H), h.
5
[3]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, (Kairo: Al-Faruq Al-Haditsiyah,
2008), h. 13-14
[4]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, h. 15
[5]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, h. 25
[6]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, h. 28
[7] Ahmad
Lutfi Fathullah, Hadis dan Ilmu Hadis, (Jakarta: PKH, t.t.), Bab:
Biografi Ulama Pakar Hadis.
[8]
Ahmad Lutfi Fathullah, Hadis dan Ilmu Hadis, Bab: Biografi Ulama Pakar
Hadis
[9]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, h. 5
[10]
Magfur Usman, Anotasi Kitab-Kitab Hadis, (Jakarta: t.p., 2006), h. 21
[11]
Magfur Usman, Anotasi Kitab-Kitab Hadis, h. 20
[12] Artikel
: Tokoh Islam - Hikmah Al-Quran & Mutiara Hadits, http://www.alsofwah.or.id/cetaktokoh.php?id=206,
di akses tanggal 22 Maret 2015
[13]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, h. 30
[14]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, h. 31
[15] Ibnu
Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, jilid 1, h. 5, hadis no.: 1, Kitab
Thaharah
[16]
Ibnu Syaibah, Mushannaf Ibnu Syaibah, jilid 1, h. 7, hadis no.: 13, Kitab
Thaharah