Minggu, 27 Desember 2015

pandangan orientalis terhadap bahasa arab

BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pada mulanya wilayah kajian orientalisme hanya terbatas pada kajian keislaman, peradahan Islam, bahasa dan sastra Arab. Kemudian wilayah kajian ini meluas dan mencakup seluruh aspek kajian ketimuran, yakni mulai dan aspek bahasa ketimuran, agama-agama Timur, adat istiadat, hingga budaya ketimuran. Fokus utama kajian orientalis adalah agama Islam dan Bahasa Arab, karena keduanya merupakan faktor terbesar dan ketertarikan orientalis dan menggambarkan kontroversi gagasan, politik dan teologi yang mewarnai kehidupan masa kini.
Studi orientalisme, yang bertujuan mengkaji peradaban Islam dan bahasa Arab, sebenarnya merupakan inspirasi dan generasi masyarakat Eropa dan negara Barat, sekaligus sebagai tindak lanjut dan Perang Salib seperti yang akan dijelaskan pada uraian tentang sejarah munculnya orientalisme. Seluruh orientalis berseteru dalam memusuhi Islam padahal mereka tidak mengetahui realita Islam secara pasti dan penguasaan mereka kurang tentang bahasa Arab. Orientalisme memiliki tujuan yang beragam dan bentuk yang dinamis dari masa ke masa, dan satu kondisi menuju kondisi lainnya.
Munculnya spesifikasi kajian tradisi Arab Islam yang memungkinkan untuk memikirkan berbagai standarisasi yang terdapat dalam karya-karya orientalis dan yang berkaitan dengan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur`an. Bahwa bahasa Arab tidak layak bagi masyarakat dan bangsa manapun terutama bagi bangsa selain Arab.

B.       Rumusan Masalah
1.         Bagaimanakah pengaruh bahasa Arab terhadap ilmuan barat
2.         Sebutkan faktor-faktor yang menyebabkan orientalis mendalami bahasa Arab
3.         Siapakah tokoh orientalis yang banyak berengaruh terhadap bahasa Arab
4.         Bagaimanakah pandangan orientalis terhadap bahasa Arab
C.       Tujuan Penelitian
1.  Untuk mengetahui pengaruh bahasa Arab terhadap ilmuan barat
2.  Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan orientalis mendalami bahasa Arab
3.  Untuk mengetahui tokoh orientalis yang banyak berengaruh terhadap bahasa Arab
4.  Untuk mengetahui pandangan orientalis terhadap bahasa Arab





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Latar Belakang Sejarah Karakter Bahasa Arab[1]

Asal usul karakter bahasa Arab sifatnya masih spekulatif, dan tidaklah mengejutkan sama sekali tatkala para Orientalis membuat rekayasa teori tentang masalah ini. Hal yang sangat menyedihkan teori mereka sangat rapuh dan tidak tahan uji. Beatrice Gruendler, pengarang sebuah kajian tentang perkembangan skrip bahasa Arab, menyatakan bahwa semua skrip Arab berasal dari alfabet Funicia, karena Bahasa Arab tampaknya yang paling jauh terisolasi. Perubahan drastis dalam susunan spatial memberi isyarat bahwa kemungkinan skrip bahasa Nabatean atau Syriak menjadi perantara perkem­bangan skrip bahasa Arab. Theodor Noldeke, pada tahun 1865, mengakui bahwa skrip Nabatean memberi pengakuan terhadap yang pertama me­mengaruhi perkembangan skrip Arab Kufi; setelah itu banyak orang yang mengikuti pendapatnya, di antaranya M.A. Levy, M. de Vogue, J. Karabacek dan J. Euting. Tetapi setengah abad kemudian kesepakatan pendapat tersebut mulai pudar ketika J. Starcky membuat teori bahwa bahasa Arab berasal dari tulis­an bahasa Syriak yang berbentuk meruncing (Syriac Cursive). Di lain pihak, kita lihat teori Y. Khalil an-Nami mengatakan bahwa, "Hijaz adalah merupa­kan tempat kelahiran evolusi tulisan (script) Arab bagian Utara, bukan daerah­daerah lain, termasuk Hirah.”
Di antara misi Orientalis ada beberapa yang beranggapan bahwa umat Islam bangsa Arab tidak memiliki sistem tulisan sejak zaman kehidupan Nabi Muhammad saw. Kata-kata Professor Mingana menyebut, ”Ketololan kami tentang bahasa Arab pada awal perkembangannya sama seperti ketidaktahuan kita secara pasti apakah memiliki huruf alfabet sendiri sewaktu di Mekah maupun Madinah. Jika bentuk tulisan itu menjelma di dua tempat (Mekkah dan Madinah), itu mesti memiliki kesamaan dengan karakter Estrangelo (contohnya Syriak) atau Hibru”. Nabia Abbott kemudian secara partial lebih unggul dalam hipotesis ini,
Studi tentang manuskrip Arab Kristen menunjukkan fakta yang menarik bahwa beberapa manuskrip kuno ini lebih menunjukkan pengaruh karak­ter Estrangelo, walaupun tidak secara langsung melalui orang Nestorian, dari segi bentuk skripnya yang cenderung lebih mirip. Manuskrip yang lain menunjukkan pengaruh Jacobit Serto. Kemudian perbandingan antara beberapa manuskrip-manuskrip Arab Kristen kuno dengan manuskrip Al­-Qur'an Kufi kontemporer menunjukkan adanya beberapa kesamaan skrip.
Bagaimana pun tidak semuanya seperti yang terlihat. Menurut Abbott, "Manuskrip Arab Kristen tertua adalah dari tahun 876," yakni 264 H. `Awwad bahkan menyebut adanya manuskrip yang lebih awal lagi, yang ditulis pada tahun 253 H/867 M. Manuskrip Arab Kristen yang tertua ditemukan pada kedua pertengahan abad ketiga hijrah. Secara literal, ada ratusan kalau tidak ribuan manuskrip Al-Qur'an yang terdapat pada periode ini; perban­dingan antara manuskrip yang ratusan ini dengan satu atau dua contoh Estrangelo (Syriak) dan akhirnya beranggapan bahwa Syriak memengaruhi AI-­Qur'an benar-benar merupakan ilmu miskin kalau ingin menyebutnya sebagai ilmu. Di atas segalanya, saya ingin menambahkan bahwa skrip Syriak tahun 250 H (kecil tajam dan tidak lurus ke depan) secara umum tidak sama dengan semua huruf Arab pada periode itu yang cenderung bengkok dengan satu garis lurus. Seseorang mungkin bertanya kenapa Abbott menghindari peng­gunaan dokumentasi Arab dan manuskrip Al-Qur'an yang muncul pada abad pertama hijrah yang relatif banyak membanjir di rak-rak buku perpustakaan.
Kita tinggalkan Syriak, budaya lain yang dianggap telah memengaruhi tulisan Arab kuno palaeography adalah Nabatean. Menurut Dr. Jum'a, telaah kajian menyeluruh yang dilakukan oleh para ilmuwan yang memiliki otoritas, membuktikan bahwa bahasa Arab telah mengambil tulisan mereka dari Nabatean. Di dalarn masalah ini dia mengutip sejumlah ilmuwan seperti Abbott dan Wilfinson. Dalam menganalisis sebuah tulisan tangan, mata uang, dan manuskrip Muslim yang tertua, dan dibandingkan dengan tulisan-tulisan Arab sebelum Islam, kemudian setelah itu membandingkannya dengan tulisan Nabatean, Abbott menyimpulkan bahwa skrip Arab yang digunakan di awal permulaan Islam adalah pakembangan tulisan Arab sebelum Islam yang secara langsung merupakan pengaruh dari perkembangan skrip Nabatean Aramaik yang muncul pada awal permulaan abad masehi.

B.       Studi Dokumentasi dan Inskripsi Arab Kuno[2]

Di besarkan di Mekah sejak dini dari zaman kanak-kanaknya, Isma'il, putra tertua Ibrahim, lahir dari kalangan suku Jurhum dan menikah dua kali dari kalangan mereka. Suku ini berbicara Bahasa Arab, dan demikian pula tak diragukan lagi Isma'il berbicara dengan bahasa yang sama. Bahasa Arab Jurhum kemungkinan kehilangan daya tarik lalu mereka memolesnya dengan bahasa Arab Quraish yang mendahuluinya hampir sekitar dua ribu tahun; Ibn Ushta mencatat pernyataan Ibn ‘Abbas bahwa yang pertama-tama membuat aturan grammar dan alfabet bahasa Arab tak ada orang lain melainkan Isma'il. Allah kemudian menugaskan Isma'il sebagai Nabi dan Rasul, untuk mengajak umatnya menyembah Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat kepada orang miskin. Oleh karena itu, Allah mengutus rasul dalam bahasa kaumnya sendiri, maka Isma'il juga sudah pasti berdakwah dalam bahasa Arab. Keturunannya diakui bahwa Nabi Isma'il diberi karunia dua belas putra, di antaranya Nebajoth/Nabat: dilahirkan dan dididik di sekitar Jazirah Arab yang semestinya mereka juga menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa ibu. Putra-putranya memelihara risalah ayah dengan menggunakan skrip Arab; sudah pasti mereka tidak mengubah skrip apa pun yang dipakai di Palestina (tanah air Ibrahim), semenjak dua generasi ini sudah berada dan hidup di Saudi Arabia. Ketika Nabat kemudian berhijrah ke arah utara, dia semestinya membawa alfabet dan bahasa Arab bersamanya. Dan keturunan inilah yang akhirnya mendirikan dinasti Nabatean (600 Sebelum Masehi-50 Masehi).
Mengomentari terhadap keabsahan beberapa karakter bahasa Arab yang tidak terwakili dalam bahasa Armaik, Gruendler menyatakan, "Karena para penulis teks Nabatean berbicara bahasa Arab, dan adanya hubungan mesra di antara kedua-dua bahasa (penulis-penulis ini) dapat menemukan persamaan bahasa Nabatean dalam ejaan kata-kata Arab (orthography) yang kedengar­annya janggal."Secara langsung dinyatakan bahwa skrip dan bahasa Nabatean sebenarnya adalah bentuk bahasa Arab.
Jika Orang Nabatean berbicara dalam bahasa Arab, lantas siapa yang memberinya nama bahasa Nabatean? Apakah ada bukti bahwa mereka me­nyebut bahasa mereka sebagai bahasa Nabatean? Atau mungkin ini diambil dari kecenderungan yang sama dalam memberi label kepada umat Islam sebagai "Muhamaddan (pengikut Muhammad)," Islam sebagai "Muham­madanism (ajaran Muhammad)," dan Al-Qur'an sebagai "Turkish Bible (Bible Orang Turki)"? Jika apa yang disebut skrip Nabatean sudah dinyatakan sebagai "Arabic (bahasa Arab)" atau "Nabatean Arabic" (sebagaimana kita kadang­kadang berbicara dalam bahasa "Arab Mesir" atau "Inggris Amerika"), lalu semua kajian harus mengambil giliran yang berbeda dan diharapkan akan lebih tepat lagi untuk mencapai tujuan itu. Bahasa Arab dan tulisannya dalam bentuk primitifnya, itulah yang melahirkan bahasa Nabatean dan kemungkinan besar muncul sebelum bahasa Syriak.
Mengalihkan perhatian kita terhadap hipotesis Dr. Mingana yang me­nuduh bahwa bahasa Arab kuno tidak mempunyai alfabet, Prof. A’zhami akan men­jelaskan beberapa perkembangan inskripsi tingkat tinggi yang membuktikan fakta sebaliknya. Ada beberapa inskripsi Arab dari abad 6 masehi yang menyerupai tulisan Arab (palaeography) yang digunakan pada abad pertama hijrah/abad ketujuh masehi; Contoh-contoh yang saya berikan akan mem­perlihatkan kemajuan mulai dari sini sampai pada zaman Islam.
1.      Inskripsi tiga bahasa sebelum Islam dalam bahasa Arab, Yunani, dan Syriak di Zabad, Suriah Utara, bertanggalkan 512 M.
2.      nskripsi bahasa Arab lainnya sebelum Islam di Jabal Asis, 150 km ke tenggara Damaskus. Ini bertepatan dengan kira-kira tahun 528 M.
3.      Han-an, Inskripsi bahasa Arab sebelum Islam, kira-kira tahun 568 M.
4.      Inskripsi Islam di atas Jabal Sala’, Madinah. Menurut Hamidullah ini kemungkinan besar tertulis dalam ukiran pada waktu perang Khandaq, kira-kira tahun 5 H/626 M.
5.      Surat Nabi untuk al-Mundhir bin Sawa, Gurbenur al-Ahsa', kira-kira tahun 8-9 H.
6.      Surat Nabi saw. untuk Hiraql (Heraclius).
Ini cukup untuk membantah pernyataan Rev Mingana tentang alfabet bahasa Arab kuno.

C.       Usaha dan Pengaruh Orientalis dalam Mendalami Bahasa Arab

Bahasa Arab dipelajari  para orientalis, sejak abad XI M dan merupakan jembatan menyelidiki dan meneliti ilmu pengetahuan Timur, terutama ilmu pengetahuan Islam dan lainnya, seperti matematika, filsafat, kedokteran, astronomi, dan lain-lain.[3]
Setelah berakhirnya periode klasik Islam, ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan, kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan politiknya. Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan Islam Spanyol. Dari Spanyol Islamlah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu, orang-orang Eropa Kristen banyak belajar dari perguruan-perguruan tinggi Islam di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.[4]
Lahirnya orientalisme dikalangan ahli teologi, merupakan kebutuhan mereka untuk memahami intelektualitas semit karena ada hubungannya dengan Taurat dan Injil. Untuk itu mereka bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Ibrani, Aram dan Arab, serta kesusastraan bahasa-bahasa tersebut. Sehubungan dengan itu, mereka memandang bahwa penguasaan bahasa Arab harus tidak kurang daripada penguasaan bahasa Ibrani demi tujuan penerjemahan kitab suci dari bahasa Ibrani ke bahasa latin dengan terjemahan yang baik. Bahkan, seorang orientalis Belanda, Schultens, berpendapat dalam tesisnya tentang manfaat-manfaat bahasa Arab dalam menafsirkan Injil.[5]
Para orientalis menyadari bahwa bahasa Arab adalah satu-satunya alat penyebaran pemikiran dan nilai-niali Islam ke seluruh pelosok dunia. Sebab, sekalipun seseorang bukan berbangsa Arab, namun karena Ia seorang Muslim, mereka merasa berkewajiban mempelajari bahasa Arab dalam rangka mengkaji kandungan al-Qur`an. Dengan demikian, meskipun setiap bangsa mempunyai dialek masing-masing, namun dalam penulisan mereka dapat saling mengerti karena dalam penulisan digunakan bahasa Arab fasih. Philip Hitti dalam bukunya ”History of The Arabs” berkata: Jika bahasa Arab dapat cepat tersebar di kalangan kaum muslimin dan terciptanya saling pengertian di antara mereka, hal itu karena kitab mereka (al-Qur`an), karena al-Qur`an yang mempersatukan lahjah-lahjah yang berbeda.[6]
Menyadari hal itu, para orientalis berusaha menyingkirkan bahasa Arab sebagai bahasa negara dan menggantikannya dengan bahasa Asing. Di Maroko pernah ada upaya memberlakukan bahasa Prancis sebagai pengganti bahasa Arab. ’Ilal al-Fasi mengutip ucapan seorang pengacara Mr. Backer pada suatu pertemuan tentang sistem pengadilan bangsa Barbar tanggal 26 Februari 1930: ”Anggota komite telah sepakat untuk menghapus peraturan hukum adat yang berbahasa Arab”. Usaha mereka tuidak sebatas itu saja, mereka juga menerjemahkan al-Qur`an ke dalam bahasa Prancis, bukan untuk orang Prancis melainkan diperuntukkan untuk Muslim Maroko.[7]
Di Turki, upaya mengganti bahasa Arab dengan bahasa Turki telah berjalan, bahkan sampai menyentuh pada rutinitas ritual seperti adzan dan al-Qur`an. Adzan tidak agi dikumandangkan dengan bahasa Arab seperti yang kita kenal, tetapi bahasa Turki menempati kedudukannya. Peristiwa ini terjadi pada masa rezim Musthafa Kamal at-Taturk. Di Mesir, perang terhadap bahasa Arab dilakukan dengan upaya memasyarakatkan bahasa Amiyah (pasaran) dan tulisan latin sebagai pengganti tulisan Arab. Penggunaan bahasa Amiyah di kalangan bangsa Arab, khususnya mesir dianggap sebagai bentuk penyelewengan dari ragam fushah. Sehingga sampai saat ini ahasa amiyah mendominasi hampir seluruh ruang cakap pada tuturan bangsa Arab karena mereka menganggap bahasa fushah sangat sulit untuk dipelajari dan terlalu ketinggalan zaman karena berbeda dengan bahasa ibu mereka yaitu bahasa amiyah.[8]
Studi ketimuran bermanfaat jika digunakan dalam kegiatan perdagangan, misi, dan zending Kristen di tengah-tengah kaum muslim. Karenanya, dalam pranata-pranata keagamaan, seperti vatikan dan gereja-gereja besar, para pengikutnya di seluruh Eropa mulai membuka sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Arab pada biarawan-biarawan penginjil. Para raja, gubernur, dan walikota diharuskan membuka sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa-bahasa timur di setiap ibukota serta menetapkan tenaga-tenaga pengajar yang ahli di universitas-universitas untuk pengajaran bahasa timur. Hal itu mereka laksanakan dengan baik.[9]
Pada masa al-Ma`mun lingkungan rasional siap menerima filsafat dan logika, lalu pemiliknya mencarinya pada kaum muslimin di Andalusia. Menurut Daniel Morly, mereka yang mencarinya itu adalah para filosof dunia yang paling bijaksana karena institut-institut di Eropa tidak memuaskan keinginan mereka. Seperti halnya Morly, Gerard of Cremona, orang Italia dia mempelajari sejumlah buku yang berbahasa latin tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan, tetapi keinginannya pada kitab al-Magest yang tidak terdapat di kalangan orang-orang latin mendorongnya pergi ke Toledo. Di tempat itu, dia melihat banyak sekali buku berbahasa Arab dalam berbagai topik dan disiplin. Dia sangat prihatin atas kemiskinan ilmiah latin. Untuk itu, dia memutuskan untuk belajar bahasa Arab agar dapat menerjemahkan perbendaharaan ilmu tersebut ke dalam bahasa latin.[10]

D.      Tujuan Orientalis Mempelajari Bahasa Arab

1.      Secara lahiriah merupakan gerakan ilmiah dengan maksud mengadakan studi tentang warisan Timur (oriental legacy), kepercayaan dan peradabannya.
2.      Untuk mengetahui sumber-sumber warisan Islam, kemudian berusaha memalingkan pemiliknya dari warisan tersebut dan bergantung kepada kebudayaan barat.
3.      Dengan tujuan ilmu pengetahuan, perdagangan, agama, politik, dan penjajahan, dan menghancurkan Islam dan umatnya. Dalam mencapai tujuan ini, mereka berusaha memutarbalikkan hak dengan batil, merusakkan bahasa Arab fushhah yang dikatakan sudah tidak relevan lagi di dunia modern sekarang ini.[11]

Tujuan para orientalis mempelajari bahasa Arab, ada yang positif, mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan semata, dan ada pula yang negatif, yaitu orientalis fanatik untuk memecah belah umat Islam dan menghancurkan agamanya.[12]

E.       Terjemahan Sumber-Sumber Utama Berbahasa Arab

Al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Beliau mendirikan Bait al-Hikmah sebagi pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[13]
Salah satu ironi sejarah abad pertengahan di Barat adalah bahwa pada saat yang sama ketika Perang Salib, dengan Petrus Sang Pertapa, Bernardus dari Clairvoux, dan tokoh-tokoh lain mengkhotbahkan perlawanan terhadap Islam, berlangsung di beberapa bagian Eropa, berlangsung pula pertukaran inteklektual dan cultural antara kaum Muslimin dan umat Kristiani. Pada abad kedua belas/keenam, di beberapa tempat seperti di Spanyol, berlangsung gerakan seperti yang terjadi di Baghdad abad kesembilan/ketiga, yaitu gerakan penerjemahan karya-karya filsafat dan sains agar dapat dijangkau oleh khalayak baru. Bedanya, yang terjadi di Baghdad adalah penerjemahan dari bahasa Yunani dan Persia ke bahasa Arab, sementara di Spanyol adalah penerjemahan dari bahasa Arab ke bahasa Latin.[14]
Masalah utama yang dihadapi para sejarawan tentang tentara salib di periode modern adalah kurangnya terjemahan sumber-sumber Islam ke dalam bahasa-bahasa Eropa. Karya-karya yang diterjamahkan tersebut memang digunakan, namun karya-karya lainnya masih tetap tidak bias diakses, dan masih terdapat sangat banyak gambaran histiografis yang bersifat utuh mengenai suatu peristiwa atau pemerintahan dari pihak umat Islam yang tidak bisa dipahami. Selain itu, terjemahan yang telah dibuat kadang-kadang keliru, meskipun tentu saja bias dikatakan bahwa “sekerat roti lebih baik daripada tidak sama sekali”. Adalah bijak untuk mencermati seberapa sering buku-buku tentang perang salib dari sudut pandang kaum muslim yang tersisa yang jumlahnya sedikit, yang sama sedikitnya dengan sumber-sumber islam, telah digunakan lagi. Dengan demikian, mempertimbangkan kembali sumber-sember utama itu maknanya akan jauh lebih penting.[15]
Karena itu, adalah tugas mereka yang bisa membaca sumber-sumber Islam, dan khususnya para sejarawan modern di timur tengah itu sendiri, untuk menghasilkan karya, terjemahan dan analisis yang mendalam serta teliti mengenai teks-teks tersebut, dan dengan demikian dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat yang lebih luas untuk memahami perspektif umat islam secara lebih mendalam mengenai peristiwa perang salib. Periode mamluk sangat kaya dengan bahan-bahan historiografis yang sering kali memuat petikan-petikan dari catatan sebelumnya yang telah hilang.[16]
Titik awal yang berguna untuk contoh yang mengenai catatan-catatan peristiwa yang berbahasa Arab adalah karya F. Gabrieli, Arab Historians of the Crusades (London 1969). Namun petikan tersebut diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Italia dan baru kemudian ke dalam bahasa Inggris. Dengan demikian, petikan tersebut sedikit menyimpang dari aslinya. Apalagi petikan tersebut sering kali terlihat lebih sebagai sebuah ringkasan dari teks aslinya daripada sebuah karya terjemahan yang sebenarnya. Dengan dasar pertimbangan bahwa terjemahan adalah lebih baik daripada tidak ada sama sekali, Recueil Des Historiens Des Croisades: Historiens Orientaux I-V (Paris, 1872-1906), (petikan dalam bahasa arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis) yang banyak dikritik masih berguna bagi mereka yang tidak bias berbahasa arab tapi bias berbahasa Prancis, sekalipun banyak terdapat kesalahan penyuntingan dan kesalahan penerjemahan. Pada daftar pustaka di akhir buku ini, pembaca bisa melihat daftar yang lebih lengkap tentang sumber-sumber  berbahasa Arab penting lainnya yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa.[17]

F.        Tokoh dan Pandangan Orientalis Terhadap Bahasa Arab
1.    Thomas Erpenius (1584-1624)[18]
Orientalis Belanda, yang dalam bahasa Belanda dikenal dengan dengan nama Van Erpe ini lahir pada 11 September 1584 di Gorkum, Belanda. Dia menekuni teologi di Leiden. Kemudian dianjurkan oleh Scaliger agar mempelajari bahasa Arab. Namun pada saat itu baik di Inggris maupun di Belanda belum terdapat sekolah yang mengajarkan bahasa Arab.
Pada awal tahun 1709 dia pergi ke Paris untuk belajar bahasa Arab kepada Stefanus Hubertus, seorang guru besar bahasa Arab di Universitas Paris dan juga seorang dokter di istana Henry IV. Dia adalah sosok ilmuwan yang gemar belajar bahasa Arab dan bahasa-bahasa Timur lain selama menetap di dunia Timur. Selain belajar kepada Hubertusa dan Erpenius, dia juga belajar bahasa Arab kepada pengawas perpustakaan kerajaan, Issac Casaubon (1559-1614), seorang ilmuwan Yunani yang termasyhur pada masanya, dan dikenal sebagai ensiklopedis yang menonjol. Casaubon melihat bakat dan potensi yang besar pada diri Erpenius, oleh karena itu dia mengizinkan Erpenius menggunakan literatur-literatur berbahasa Arab di perpustakaan yang dikelolanya. Diantara sebagian literatur yang terdapat di dalam perpustakaan tersebut terdapat peninggalan Hadenius Gyum, seorang mahasiswa kedokteran dari kota Vissingen, yang memiliki kemmapuan bahasa Arab bagus, yang meninggal dunia di usia muda, tahun 1604.
Erpenius kemudian bekerja sama dengan salah seorang Mesir Qibti yang tinggal di Paris, Yusuf bin Abi Daqd, yang dalam bahasa latin dikenal dengan Joseph Barbatus Abudaacnus. Joseph menulis buku Historia Jacobitarium Seu Coptorum in Aegypto. Buku ini telah diterbitkan di berbagai tempat, antara lain di Oxford, 1675; di Lubeck, Jerman Utara, 1733; dan di Leiden, 1740. Dampak dari pergaulan Erpenius dengan ilmuwan mesir ini sangat terasa dalam meningkatkan penguasaan bahasa Arab baik lisan maupun tulisan. Dalam masa sembilan bulan ia mampu menulis tugas akhir, risalah yang diajukan kepada Bedwell dengan bahasa Arab Fusha, tentunya dengan sedikit kesalahan tata bahasa dan bahasa di dalamnya. Risalahnya itu sudah diterbitkan oleh M. T. Houtsma di Amsterdam.
Dari Paris kemudian ia meneruskan studi teologi ke Saumur, Prancis Barat, pada bulan Nopember 1609, dan belajar selama satu tahun disana. Setelah itu, Erpenius bertekad mendalami bahasa Arab dengan mempelajari nahwu (semantik) dan sharaf (fonologi). Untuk itu, dia mempelajari kaitab nahwu dan  sharaf, seperti al-Ajuru- Amiyyah, al-Kafiyah, dan al-’Awamil al-Mi’ah-nya al-Jurjani. Disamping itu, dia juga mengkaji buku-buku lain yang berkaitan dengan bahasa Arab di bawah bimbingan Issac Casaubon dan Hubertus.
Keseriusanya mempelajari bahasa Arab menjadikannya mampu memahami rahasia-rahasia keindahan bahasa Arab, sehingga mampu merasakan perbedaan-perbedaan antara bahasa Arab dengan Ibariyah. Dia juga menaruh perhatian pada perbedaan antara bahasa Arab Fusha dengan bahasa Arab ’Ammiyah. Hal tersebut telah mengilhaminya untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab dengan susunan yang sistematis, atas dorongan dari Casaubon, dia mulai meneliti dan mengumpulkan syair-syair yang beredar, namun tidak diketahui pengarangnya, hingga mencapai 200 matsal (kata-kata mutiara, peribahasa). Kumpulan kata mutiara ini menarik perhatian Fleurance yang mengasuh Raja Louis XIII di Roma, dan meminta agar kumpulan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Setelah kumpulan kata mutiara itu diterjemahkan, karya asli dan terjemahanya kemudian di bawa Fleurance kepada Casaubon.
Setelah menerjemahkan 176 dari 200 kata mutiara tersebut, dia meninggal dunia tahun 1609. Akhirnya Casaubon meminta Erpenius untuk menerbitkan kumpulan kata mutiaranya tersebut beserta terjemahan latinya. Kumpulan kata mutiara tersebut diterbitkan pada tahun 1615 dengan judul Arab dan Latin; kitab al-amtsal, Seu Proverbiorum Arabicorum Centuriae Duae, Ab Anomnymo Quodam Arabi Collectae et Expicate, Cum Interpretatione Latine et Scholiis Los, Scaligeri Caes, F. Et Thomae Erpeni Leidae.
Buku tersebut mengalami cetak ulang sekaligus dengan revisinya tahun 1623. Ketika Erpenius kembali ke Paris pada tahun 1610, dia mendapati sejawatnya, Casaubon telah pindah ke London akibat pengkhoatanya terhadap Henry IV. Demi kelangsungan penyebaran buku kumpulanya itu, ia pergi ke Conflans pada musim panas tahun 1611. Disini ia bertemu dengan saudagar dari Maroko bernama Ahmad bin Qasim al-Andalusi. Dari pertemuan tersebut, kesempatan untuk berkomunikasi dengan bahasa Arab bersama orang muslim terbuka lebar, bahkan untuk beberapa bulan mereka menghabiskan waktu di Paris untuk memantapkan dialek bahasa Arab Maroko. Melalui saudagar muslim ini pula, Thomas Erpenius untuk pertama kalinya berkenalan dengan hakikat iman dalam ajaran Islam, serta posisi sunnah Nabi, di samping al-Qur`an dalam pembentukan akidah Islam.
Pada bulam Maret 1612 Erpenius pergi ke Bandaqia, namun pada musim panas tahun yang sama dia kembali ke kampung halamanya di Belanda. Pada saat yang bersamaan, di Universitas Laiden sedang dikaji pembentukan kajian bahasa Arab, pada saat itu, ilmuwan yang pernah bertindak sebagai dosen bahasa Arab ialah Johans Antonius, salah satu murid Franciscus Raghhelengius (1539-1597).

2.      Albert Schultens (1686-1750)[19]
Orientalis Belanda ini lahir di Chroningen, Belanda Utara pada tahun 1686 dan meninggal dunia di Leiden pada 26 Juli 1750. Albert Schultens bercita-cita menjadi pendeta yang menyebarkan injil. Untuk merealisasikanya, dia sejak awal mulai mempelajari teologi serta bahasa Yunani, Ibrani, Kaldani, dan Suryani. Tidak lama kemudian dia pergi ke Leiden untuk berkonsultasi dan memperoleh nasihat dari Reelend. Setelah itu Schultes diangkat sebagai penyebar inil di Wassenar pada tahun 1711.
Pada tahun 1713 Schultens diberi kehormatan sebagai guru besar di bidang bahasa-bahasa Timur di Universitas Franaker. Lalu pada tahun 1729, dia ditunjuk sebagai guru besar bahasa-bahasa Timur diUniversitas Leiden. Kemudian pada tahun 1740 dia menggabungkan divisi kajian bahasa-bahasa Timur dengan divisi kajian klasik, sesudah penggabungan kedua kajian itu dia tetap memegang kendali sebagai pengelolanya sampai Schultens meninggal pada tahun 1750.
Perjalanan ilmiahnya diawali dengan menyelesaikan tugas akhir untuk meraih gelar sarjana tingkat pertama pada tahun 1706 di Universitas Chroningen, dengan judul kajian teologis filologis; peran bahasa Arab dalam memahami bahasa kitab suci (Ibrani). Karya pertamanya ini dilampirkan kembali dalam buku karanganya Opera Omnia, yang diterbitkan pada tahun 1764 (hlm. 487-510). Dalam buku tersebut disebutkan bahwa bahasa Arab, Kaldan, Suryani, dan Habsyi merupakan rumpun dari bahasa atau dialek bahasa Ibrani. Oleh karena itu, dia menganjurkan pemanfaatan lafal-lafal Ibrani yang dipakai kitab suci. Untuk itu, Schultens mengemukakan 32 contoh kasus sebagai bukti yang menunjukan efektivitas bahasa Arab. Dia mengatakan bahwa bahasa Arab mampu menjelaskan masalah-masalah pelik dan rumit yang terdapat dalam kitab suci. Dia tidak hanya menggunakan bahasa Arab untuk memahami kitab suci, tetapi juga memanfaatkan bahasa Arab untuk menerangkan lembaran Ayyub dan lembaran-lembaran dari Amtsali Sulaiman. Kedua keteranganya itu dituangkan dalam buku pertama, lembaran Ayyub dengan terjemahan Latin yang didasarkan pada bahasa Ibrani, beserta penjelasanya (Leiden, 1737). Buku kedua ialah Amtsali Sulaiman, terjemah lengkap dari bahasa Ibrani dan penjelasanya (Leiden, 1748).
Schultens menyatakan bahwa asal usul bahasa Arab dapat dilacak sampai pada masa Nabi Sulaiman, bahkan sampai masa Nabi Musa. Dia menegaskan bahwa bahasa yang digunakan oleh Yarh bin Yaqthan ialah bahasa Ya’rib bin Qathan, yang berarti bahwa asal mula bahasa Ibrani adalah bahasa Arab, seperti yang dipakai oleh Ismail, tokoh suku Acrab Utara. Schuktens berupaya mempertahankan pendapatnya itu dalam berbagai kajian, terutama dalam karyanya yang diberi judul Asal Usul Bahasa ArabI yang Paling Awal, di dalamnya terdapat contoh-contoh bahasa Arab kuno yang diambil dari manuskrip-manuskrip karya an-Nawiri, al-Masudi, Abu al-Fida, dan al-Hamsah (Leiden,1740).
Keberadaan karya Schultens tersebut tidak terlepas dari berbagai kritik yang dilontarkan oleh para kritikus bahasa dan juga para ahli bahasa. Diantaranya, adalah kritik yang dikemukakan oleh Gousset, antara keduanya terjadi polemik hebat. Untuk menangkis semua kritik yang diarahkan kepadanya, Schultens menulis sebuah buku yang cukup tebal berjudul Origines Hebrae, dalam dua jilid (Franaker, 1724 dan 1738). Dalam buku tersebut dinyatakan bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa yang ditentukan Tuhan atau bahasa Ilahi, seperti yang diyakini saat itu, tetapi lebih mendekati dengan bahasa-bahasa semit lain.
Selain karya-karya Schultens yang berkaitan dengan bahasa Ibrani dan semua bahasa-bahasa Semit,  ia lebih menonjolkan penggunaan bahasa Arab. Oleh karena itu, Schultens menulis sejumlah buku yang cenderung pada penggunaan bahasa Arab untuk memahami istilah-istilah rumit yang terdapat dalam kitab suci. Untuk kepentingan itu ia menerbitkan beberapa buku, antara lain:
1.      Buku  an-nahwu al-’Arobi Thomas Erpenius pada tahun 1733-1748 yang dilengkapi dengan qasidah dan amtsal pilihan berdasarkan sumber dari Hamasahnya Abi Tamam
2.      Terjemahan bagian ketiga dari maqamatnya al-Hariri dakam bahasa Latin.
3.      Terjemahan buku biografi Sholah ad-Dinnya Baha ad-Din pada tahun 1733.
4.      Uraian atas lembaran Ayyub
5.      Asal usul bahasa Arab yang paling awal.
6.      Amtsal Sulaiman diterbitkan pada tahun 1748
Schultens memiliki anak sekaligus cucu juga berprofesi sebagai ilmuwan, bernama Jean Jacques, yang lahir di Franaker pada tahun 1716, dan meninggal di Leiden pada 27 November 1778. Dia menjadi guru besar dalam bidang teologi dan divisi bahasa-bahasa Timur di Universitas Herborn pada tahun 1742, dan di Leiden pada tahun 1749. Di samping sebagai seorang ilmuwan, dia memiliki sejumlah karya ilmiah dalam bidangnya.
Sedangkan cucunya ialah Henny Albert, yang dilahirkan di Herbom pada 15 Februari 15 Januari 1719 dan meninggal di Leiden pada 12 Juli 1793. Dia pergi ke Inggris untuk meneliti manuskrip-manuskrip Arab diperpustakaan Badlwy, Ocxford dan menerbitkan buku Mukhtarat min Amtsal al-Maidani (London, 1773), Cetakan ulang dilakukan oleh Pococke. Ketika kembali dari Inggris dia diangkat sebagai guru besar bidang kajian bahasa-bahasa Timur di Universitas Amsterdam pada tahun 1774. Kemudian, pada awal Maret 1778 dia diangkat sebagai guru besar bahasa-bahasa Timur di Universitas Leiden pada tahun 1787. Dia meninggal ketika sedang menyiapkan tulisan lengkap tentang al-Amtsal al-Maidani. Selain itu, dia juga telah menyiapkan sejumlah manuskrip Arab yang amat bernilai, yang kemudian, paada tahun 1808 dibeli oleh perpustakaan Universitas Leiden dari keluarganya.
Diantara karya-karyanya yang terpenting adalah Mukrtarat min Amtsal al-’Arobiyyah, memuat 285 kata-kata mutiara yang ditulis oleh Az-Zamaksyari. Manuskrip kumpulan kata-kata mutiara tersebut masih tersimpan di Universitas Leiden, dan kalilah Amtsal al-Dimnah, dalam teks Arab (1786), terjemahan beberapa bagian dari Amtsal al-Maidani, yang diterbitkan setelah ia meninggal dunia, oleh M.G Schroder (Leiden, 1795).
Kenyataan tersebut telah menunjukkan bahwa Schultens termasuk dari keluarga ilmuwan yang telah banyak menyumbangkan karya-karya ilmiah bagi dunia ilmu.



























BAB III
KESIMPULAN

Bahasa Arab dipelajari  para orientalis, sejak abad XI M dan merupakan jembatan menyelidiki dan meneliti ilmu pengetahuan Timur. Para orientalis menyadari bahwa bahasa Arab adalah satu-satunya alat penyebaran pemikiran dan nilai-niali Islam ke seluruh pelosok dunia. Sebab, sekalipun seseorang bukan berbangsa Arab, namun karena Ia seorang Muslim, mereka merasa berkewajiban mempelajari bahasa Arab dalam rangka mengkaji kandungan al-Qur`an. Dengan demikian, meskipun setiap bangsa mempunyai dialek masing-masing, namun dalam penulisan mereka dapat saling mengerti karena dalam penulisan digunakan bahasa Arab fasih.
Tidak hanya pengaruh negatif yang orientalis berikan, ada juga hal-hal positif yang dapat kita nikmati sampai saat ini, salah satunya adalah kitab-kitab ilmiah yang mereka terjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka. Diantara oriaentalis yang berpengaruh dalam bidang ini adalah: Albert Schultens dan Thomas Erpenius.



DAFTAR PUSTAKA

Assamurai, Qasim, Bukti-Bukti Kebohongan Orientalis, terj. dari Al-Istisraqu Baina al-Maudhu’iyyati wa al-Ifti’aliyyah oleh Syuhudi Ismail, Jakarta: Gema Insani Press, 1996
Badawi, Abdurrahman, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. dari Maushu’ah al-Mustasyriqin oleh Amroini Drajat, Yogyakarta: LKiS, 2003
Buchari, Manna, Menyingkap Tabir Orientalisme, Amzah: Jakarta, 2006
Hillenbrand, Carole, Perang Salib Sudut Pandang Islam,  terj. Heryadi, Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2007
Hidayat Pabbajah, M. Taufiq, Usaha-Usaha Orientalis dalam Mendestruktifkan Bahasa Arab, https://addankpabbajah.wordpress.com/2014/07/08/usaha-usaha-orientalis-dalam-mendestruktifkan-bahasa-arab, diakses tanggal 18 Oktober 2015
Goddard,Hugh, Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen, terj. Zaimuddin dan Zaimul Am, PT Serambi Ilmu Semesta: Jakarta, 2013
Mustafa Al-A'zami, Muhammad, The History of The Qur'anic Text, From Revelation to Compilation terj. Sejarah Teks Al-Quran-Dari Wahyu Sampai Kompilasinya
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994


[1] Muhammad Mustafa Al-A'zami, The History of The Qur'anic Text, From Revelation to Compilation terj. Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya, h. 129-142
[2] Muhammad Mustafa Al-A'zami, The History of The Qur'anic Text, From Revelation to Compilation terj. Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya, h. 129-142.

[3] Manna Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Amzah: Jakarta, 2006), cet. ke-1, h. 95

[4] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), cet. ke-2, h. 87
[5] Qasim Assamurai, Bukti-Bukti Kebohongan Orientalis, terj. dari Al-Istisraqu Baina al-Maudhu’iyyati wa al-Ifti’aliyyah oleh Syuhudi Ismail (Jakarta: Gema Insani Press, 1996). Cet. ke-1, h. 32
[6] M. Taufiq Hidayat Pabbajah, Usaha-Usaha Orientalis dalam Mendestruktifkan Bahasa Arab, https://addankpabbajah.wordpress.com/2014/07/08/usaha-usaha-orientalis-dalam-mendestruktifkan-bahasa-arab, diakses tanggal 18 Oktober 2015
[7] M. Taufiq Hidayat Pabbajah, Usaha-Usaha Orientalis dalam Mendestruktifkan Bahasa Arab, https://addankpabbajah.wordpress.com/2014/07/08/usaha-usaha-orientalis-dalam-mendestruktifkan-bahasa-arab, diakses tanggal 18 Oktober 2015
[8] M. Taufiq Hidayat Pabbajah, Usaha-Usaha Orientalis dalam Mendestruktifkan Bahasa Arab, https://addankpabbajah.wordpress.com/2014/07/08/usaha-usaha-orientalis-dalam-mendestruktifkan-bahasa-arab, diakses tanggal 18 Oktober 2015
[9] Qasim Assamurai, Bukti-Bukti Kebohongan Orientalis, terj. dari Al-Istisraqu Baina al-Maudhu’iyyati wa al-Ifti’aliyyah oleh Syuhudi Ismail , Cet. ke-1, h. 33
[10] Qasim Assamurai, Bukti-Bukti Kebohongan Orientalis, terj. dari Al-Istisraqu Baina al-Maudhu’iyyati wa al-Ifti’aliyyah oleh Syuhudi Ismail , Cet. ke-1, h. 94
[11] Manna Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, (Amzah: Jakarta, 2006), cet. ke-1, h. 93
[12] Manna Buchari, Menyingkap Tabir Orientalisme, cet. ke-1, h. 96
[13] Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, cet. ke-2, h. 53
[14] Hugh Goddard, Sejarah Perjumpaan Islam-Kristen, terj. Zaimuddin dan Zaimul Am, (PT Serambi Ilmu Semesta: Jakarta, 2013), cet. ke-1, h. 191-192
[15] Carole Hillenbrand, Perang Salib Sudut Pandang Islam,  terj. Heryadi, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2007), cet. ke- 7, h. 18-19
[16] Carole Hillenbrand, Perang Salib Sudut Pandang Islam, terj. Heryadi, cet. ke- 7, h. 19         
[17]Carole Hillenbrand, Perang Salib Sudut Pandang Islam, terj. Heryadi, cet. ke- 7, h. 19-20
[18] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. dari Maushu’ah al-Mustasyriqin oleh Amroini Drajat, (Yogyakarta: LKiS, 2003), Cet-ke 1, h. 6-8
[19] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. dari Maushu’ah al-Mustasyriqin oleh Amroini Drajat, h.13-15