BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada mulanya
wilayah kajian orientalisme hanya terbatas pada kajian keislaman, peradahan
Islam, bahasa dan sastra Arab. Kemudian wilayah kajian ini meluas dan mencakup
seluruh aspek kajian ketimuran, yakni mulai dan aspek bahasa ketimuran,
agama-agama Timur, adat istiadat, hingga budaya ketimuran. Fokus utama kajian
orientalis adalah agama Islam dan Bahasa Arab, karena keduanya merupakan faktor
terbesar dan ketertarikan orientalis dan menggambarkan kontroversi gagasan, politik
dan teologi yang mewarnai kehidupan masa kini.
Studi
orientalisme, yang bertujuan mengkaji peradaban Islam dan bahasa Arab,
sebenarnya merupakan inspirasi dan generasi masyarakat Eropa dan negara Barat,
sekaligus sebagai tindak lanjut dan Perang Salib seperti yang akan dijelaskan
pada uraian tentang sejarah munculnya orientalisme. Seluruh orientalis
berseteru dalam memusuhi Islam padahal mereka tidak mengetahui realita Islam
secara pasti dan penguasaan mereka kurang tentang bahasa Arab. Orientalisme memiliki
tujuan yang beragam dan bentuk yang dinamis dari masa ke masa, dan satu kondisi
menuju kondisi lainnya.
Munculnya
spesifikasi kajian tradisi Arab Islam yang memungkinkan untuk memikirkan
berbagai standarisasi yang terdapat dalam karya-karya orientalis dan yang
berkaitan dengan bahasa Arab sebagai bahasa al-Qur`an. Bahwa bahasa Arab tidak
layak bagi masyarakat dan bangsa manapun terutama bagi bangsa selain Arab.
B.
Rumusan Masalah
1.
Bagaimanakah
pengaruh bahasa Arab terhadap ilmuan barat
2.
Sebutkan faktor-faktor
yang menyebabkan orientalis mendalami bahasa Arab
3.
Siapakah tokoh
orientalis yang banyak berengaruh terhadap bahasa Arab
4.
Bagaimanakah pandangan
orientalis terhadap bahasa Arab
C.
Tujuan
Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh bahasa Arab terhadap ilmuan
barat
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan
orientalis mendalami bahasa Arab
3. Untuk mengetahui tokoh orientalis yang banyak berengaruh
terhadap bahasa Arab
4. Untuk mengetahui pandangan orientalis terhadap bahasa
Arab
BAB II
PEMBAHASAN
A. Latar Belakang Sejarah Karakter Bahasa Arab[1]
Asal usul karakter bahasa Arab
sifatnya masih spekulatif, dan tidaklah mengejutkan sama sekali tatkala para
Orientalis membuat rekayasa teori tentang masalah ini. Hal yang sangat
menyedihkan teori mereka sangat rapuh dan tidak tahan uji. Beatrice Gruendler,
pengarang sebuah kajian tentang perkembangan skrip bahasa Arab, menyatakan
bahwa semua skrip Arab berasal dari alfabet Funicia, karena Bahasa Arab
tampaknya yang paling jauh terisolasi. Perubahan drastis dalam susunan spatial
memberi isyarat bahwa kemungkinan skrip bahasa Nabatean atau Syriak menjadi
perantara perkembangan skrip bahasa Arab. Theodor Noldeke, pada tahun 1865,
mengakui bahwa skrip Nabatean memberi pengakuan terhadap yang pertama memengaruhi
perkembangan skrip Arab Kufi; setelah itu banyak orang yang mengikuti
pendapatnya, di antaranya M.A. Levy, M. de Vogue, J. Karabacek dan J. Euting.
Tetapi setengah abad kemudian kesepakatan pendapat tersebut mulai pudar ketika
J. Starcky membuat teori bahwa bahasa Arab berasal dari tulisan bahasa Syriak
yang berbentuk meruncing (Syriac Cursive). Di lain pihak, kita lihat teori Y.
Khalil an-Nami mengatakan bahwa, "Hijaz adalah merupakan tempat kelahiran
evolusi tulisan (script) Arab bagian Utara, bukan daerahdaerah lain, termasuk
Hirah.”
Di antara misi Orientalis ada beberapa yang beranggapan bahwa umat
Islam bangsa Arab tidak memiliki sistem tulisan sejak zaman kehidupan Nabi
Muhammad saw. Kata-kata Professor Mingana menyebut, ”Ketololan kami tentang
bahasa Arab pada awal perkembangannya sama seperti ketidaktahuan kita secara
pasti apakah memiliki huruf alfabet sendiri sewaktu di Mekah maupun Madinah.
Jika bentuk tulisan itu menjelma di dua tempat (Mekkah dan Madinah), itu mesti
memiliki kesamaan dengan karakter Estrangelo (contohnya Syriak) atau Hibru”. Nabia
Abbott kemudian secara partial lebih unggul dalam hipotesis ini,
Studi tentang manuskrip Arab Kristen menunjukkan fakta yang menarik bahwa beberapa manuskrip kuno ini lebih menunjukkan pengaruh karakter Estrangelo, walaupun tidak secara langsung melalui orang Nestorian, dari segi bentuk skripnya yang cenderung lebih mirip. Manuskrip yang lain menunjukkan pengaruh Jacobit Serto. Kemudian perbandingan antara beberapa manuskrip-manuskrip Arab Kristen kuno dengan manuskrip Al-Qur'an Kufi kontemporer menunjukkan adanya beberapa kesamaan skrip.
Studi tentang manuskrip Arab Kristen menunjukkan fakta yang menarik bahwa beberapa manuskrip kuno ini lebih menunjukkan pengaruh karakter Estrangelo, walaupun tidak secara langsung melalui orang Nestorian, dari segi bentuk skripnya yang cenderung lebih mirip. Manuskrip yang lain menunjukkan pengaruh Jacobit Serto. Kemudian perbandingan antara beberapa manuskrip-manuskrip Arab Kristen kuno dengan manuskrip Al-Qur'an Kufi kontemporer menunjukkan adanya beberapa kesamaan skrip.
Bagaimana pun tidak semuanya seperti yang terlihat. Menurut Abbott,
"Manuskrip Arab Kristen tertua adalah dari tahun 876," yakni 264 H.
`Awwad bahkan menyebut adanya manuskrip yang lebih awal lagi, yang ditulis pada
tahun 253 H/867 M. Manuskrip Arab Kristen yang tertua ditemukan pada kedua
pertengahan abad ketiga hijrah. Secara literal, ada ratusan kalau tidak
ribuan manuskrip Al-Qur'an yang terdapat pada periode ini; perbandingan antara
manuskrip yang ratusan ini dengan satu atau dua contoh Estrangelo (Syriak) dan
akhirnya beranggapan bahwa Syriak memengaruhi AI-Qur'an benar-benar merupakan
ilmu miskin kalau ingin menyebutnya sebagai ilmu. Di atas segalanya, saya ingin
menambahkan bahwa skrip Syriak tahun 250 H (kecil tajam dan tidak lurus ke
depan) secara umum tidak sama dengan semua huruf Arab pada periode itu yang
cenderung bengkok dengan satu garis lurus. Seseorang mungkin bertanya kenapa
Abbott menghindari penggunaan dokumentasi Arab dan manuskrip Al-Qur'an yang
muncul pada abad pertama hijrah yang relatif banyak membanjir di rak-rak buku
perpustakaan.
Kita tinggalkan Syriak, budaya lain yang dianggap telah memengaruhi
tulisan Arab kuno palaeography adalah Nabatean. Menurut Dr. Jum'a, telaah
kajian menyeluruh yang dilakukan oleh para ilmuwan yang memiliki otoritas,
membuktikan bahwa bahasa Arab telah mengambil tulisan mereka dari Nabatean. Di
dalarn masalah ini dia mengutip sejumlah ilmuwan seperti Abbott dan Wilfinson.
Dalam menganalisis sebuah tulisan tangan, mata uang, dan manuskrip Muslim yang
tertua, dan dibandingkan dengan tulisan-tulisan Arab sebelum Islam, kemudian
setelah itu membandingkannya dengan tulisan Nabatean, Abbott menyimpulkan bahwa
skrip Arab yang digunakan di awal permulaan Islam adalah pakembangan tulisan
Arab sebelum Islam yang secara langsung merupakan pengaruh dari perkembangan
skrip Nabatean Aramaik yang muncul pada awal permulaan abad masehi.
B.
Studi
Dokumentasi dan Inskripsi Arab Kuno[2]
Di besarkan di Mekah sejak dini dari zaman kanak-kanaknya, Isma'il,
putra tertua Ibrahim, lahir dari kalangan suku Jurhum dan menikah dua kali dari
kalangan mereka. Suku ini berbicara Bahasa Arab, dan demikian pula tak
diragukan lagi Isma'il berbicara dengan bahasa yang sama. Bahasa Arab Jurhum
kemungkinan kehilangan daya tarik lalu mereka memolesnya dengan bahasa Arab
Quraish yang mendahuluinya hampir sekitar dua ribu tahun; Ibn Ushta mencatat
pernyataan Ibn ‘Abbas bahwa yang pertama-tama membuat aturan grammar dan
alfabet bahasa Arab tak ada orang lain melainkan Isma'il. Allah kemudian
menugaskan Isma'il sebagai Nabi dan Rasul, untuk mengajak umatnya menyembah
Allah, mendirikan shalat dan membayar zakat kepada orang miskin. Oleh karena
itu, Allah mengutus rasul dalam bahasa kaumnya sendiri, maka Isma'il juga sudah
pasti berdakwah dalam bahasa Arab. Keturunannya diakui bahwa Nabi Isma'il
diberi karunia dua belas putra, di antaranya Nebajoth/Nabat: dilahirkan dan
dididik di sekitar Jazirah Arab yang semestinya mereka juga menggunakan bahasa
Arab sebagai bahasa ibu. Putra-putranya memelihara risalah ayah dengan
menggunakan skrip Arab; sudah pasti mereka tidak mengubah skrip apa pun yang
dipakai di Palestina (tanah air Ibrahim), semenjak dua generasi ini sudah
berada dan hidup di Saudi Arabia. Ketika Nabat kemudian berhijrah ke arah
utara, dia semestinya membawa alfabet dan bahasa Arab bersamanya. Dan keturunan
inilah yang akhirnya mendirikan dinasti Nabatean (600 Sebelum Masehi-50 Masehi).
Mengomentari terhadap keabsahan beberapa karakter bahasa Arab yang
tidak terwakili dalam bahasa Armaik, Gruendler menyatakan, "Karena
para penulis teks Nabatean berbicara bahasa Arab, dan adanya hubungan
mesra di antara kedua-dua bahasa (penulis-penulis ini) dapat menemukan
persamaan bahasa Nabatean dalam ejaan kata-kata Arab (orthography) yang
kedengarannya janggal."Secara langsung dinyatakan bahwa skrip dan bahasa
Nabatean sebenarnya adalah bentuk bahasa Arab.
Jika Orang Nabatean berbicara dalam bahasa Arab, lantas siapa yang
memberinya nama bahasa Nabatean? Apakah ada bukti bahwa mereka menyebut bahasa
mereka sebagai bahasa Nabatean? Atau mungkin ini diambil dari kecenderungan
yang sama dalam memberi label kepada umat Islam sebagai "Muhamaddan (pengikut
Muhammad)," Islam sebagai "Muhammadanism (ajaran
Muhammad)," dan Al-Qur'an sebagai "Turkish Bible (Bible Orang
Turki)"? Jika apa yang disebut skrip Nabatean sudah dinyatakan sebagai "Arabic
(bahasa Arab)" atau "Nabatean Arabic" (sebagaimana
kita kadangkadang berbicara dalam bahasa "Arab Mesir" atau
"Inggris Amerika"), lalu semua kajian harus mengambil giliran yang
berbeda dan diharapkan akan lebih tepat lagi untuk mencapai tujuan itu. Bahasa
Arab dan tulisannya dalam bentuk primitifnya, itulah yang melahirkan bahasa
Nabatean dan kemungkinan besar muncul sebelum bahasa Syriak.
Mengalihkan perhatian kita terhadap hipotesis Dr. Mingana yang menuduh
bahwa bahasa Arab kuno tidak mempunyai alfabet, Prof. A’zhami akan menjelaskan
beberapa perkembangan inskripsi tingkat tinggi yang membuktikan fakta
sebaliknya. Ada beberapa inskripsi Arab dari abad 6 masehi yang menyerupai
tulisan Arab (palaeography) yang digunakan pada abad pertama hijrah/abad
ketujuh masehi; Contoh-contoh yang saya berikan akan memperlihatkan kemajuan
mulai dari sini sampai pada zaman Islam.
1.
Inskripsi
tiga bahasa sebelum Islam dalam bahasa Arab, Yunani, dan Syriak di Zabad,
Suriah Utara, bertanggalkan 512 M.
2.
nskripsi
bahasa Arab lainnya sebelum Islam di Jabal Asis, 150 km ke tenggara Damaskus.
Ini bertepatan dengan kira-kira tahun 528 M.
3.
Han-an,
Inskripsi bahasa Arab sebelum Islam, kira-kira tahun 568 M.
4.
Inskripsi
Islam di atas Jabal Sala’, Madinah. Menurut Hamidullah ini kemungkinan besar
tertulis dalam ukiran pada waktu perang Khandaq, kira-kira tahun 5 H/626 M.
5.
Surat
Nabi
untuk al-Mundhir bin Sawa, Gurbenur al-Ahsa',
kira-kira tahun 8-9 H.
6.
Surat
Nabi saw. untuk Hiraql (Heraclius).
Ini
cukup untuk membantah pernyataan Rev Mingana tentang alfabet bahasa Arab kuno.
C.
Usaha dan
Pengaruh Orientalis dalam Mendalami Bahasa Arab
Bahasa Arab dipelajari
para orientalis, sejak abad XI M dan merupakan jembatan menyelidiki dan
meneliti ilmu pengetahuan Timur, terutama ilmu pengetahuan Islam dan lainnya,
seperti matematika, filsafat, kedokteran, astronomi, dan lain-lain.[3]
Setelah berakhirnya periode klasik
Islam, ketika Islam mulai memasuki masa kemunduran, Eropa bangkit dari
keterbelakangannya. Kebangkitan itu bukan saja terlihat dalam bidang politik
dengan keberhasilan Eropa mengalahkan kerajaan-kerajaan Islam dan bagian dunia
lainnya, tetapi terutama dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahkan,
kemajuan dalam bidang ilmu dan teknologi itulah yang mendukung keberhasilan
politiknya. Kemajuan-kemajuan Eropa ini tidak bisa dipisahkan dari pemerintahan
Islam Spanyol. Dari Spanyol Islamlah Eropa banyak menimba ilmu. Pada periode
klasik, ketika Islam mencapai masa keemasannya, Spanyol merupakan pusat
peradaban Islam yang sangat penting, menyaingi Baghdad di Timur. Ketika itu,
orang-orang Eropa Kristen banyak belajar dari perguruan-perguruan tinggi Islam
di sana. Islam menjadi “guru” bagi orang Eropa. Karena itu, kehadiran Islam di
Spanyol banyak menarik perhatian para sejarawan.[4]
Lahirnya
orientalisme dikalangan ahli teologi, merupakan kebutuhan mereka untuk memahami
intelektualitas semit karena ada hubungannya dengan Taurat dan Injil. Untuk itu
mereka bersungguh-sungguh mempelajari bahasa Ibrani, Aram dan Arab, serta
kesusastraan bahasa-bahasa tersebut. Sehubungan dengan itu, mereka memandang
bahwa penguasaan bahasa Arab harus tidak kurang daripada penguasaan bahasa Ibrani
demi tujuan penerjemahan kitab suci dari bahasa Ibrani ke bahasa latin dengan
terjemahan yang baik. Bahkan, seorang orientalis Belanda, Schultens,
berpendapat dalam tesisnya tentang manfaat-manfaat bahasa Arab dalam
menafsirkan Injil.[5]
Para orientalis
menyadari bahwa bahasa Arab adalah satu-satunya alat penyebaran pemikiran dan
nilai-niali Islam ke seluruh pelosok dunia. Sebab, sekalipun seseorang bukan
berbangsa Arab, namun karena Ia seorang Muslim, mereka merasa berkewajiban
mempelajari bahasa Arab dalam rangka mengkaji kandungan al-Qur`an. Dengan
demikian, meskipun setiap bangsa mempunyai dialek masing-masing, namun dalam
penulisan mereka dapat saling mengerti karena dalam penulisan digunakan bahasa
Arab fasih. Philip Hitti dalam bukunya ”History of The Arabs” berkata:
Jika bahasa Arab dapat cepat tersebar di kalangan kaum muslimin dan terciptanya
saling pengertian di antara mereka, hal itu karena kitab mereka (al-Qur`an),
karena al-Qur`an yang mempersatukan lahjah-lahjah yang berbeda.[6]
Menyadari hal
itu, para orientalis berusaha menyingkirkan bahasa Arab sebagai bahasa negara
dan menggantikannya dengan bahasa Asing. Di Maroko pernah ada upaya
memberlakukan bahasa Prancis sebagai pengganti bahasa Arab. ’Ilal al-Fasi
mengutip ucapan seorang pengacara Mr. Backer pada suatu pertemuan tentang
sistem pengadilan bangsa Barbar tanggal 26 Februari 1930: ”Anggota komite telah
sepakat untuk menghapus peraturan hukum adat yang berbahasa Arab”. Usaha mereka
tuidak sebatas itu saja, mereka juga menerjemahkan al-Qur`an ke dalam bahasa
Prancis, bukan untuk orang Prancis melainkan diperuntukkan untuk Muslim Maroko.[7]
Di Turki, upaya
mengganti bahasa Arab dengan bahasa Turki telah berjalan, bahkan sampai
menyentuh pada rutinitas ritual seperti adzan dan al-Qur`an. Adzan tidak agi
dikumandangkan dengan bahasa Arab seperti yang kita kenal, tetapi bahasa Turki
menempati kedudukannya. Peristiwa ini terjadi pada masa rezim Musthafa Kamal
at-Taturk. Di Mesir, perang terhadap bahasa Arab dilakukan dengan upaya
memasyarakatkan bahasa Amiyah (pasaran) dan tulisan latin sebagai pengganti
tulisan Arab. Penggunaan bahasa Amiyah di kalangan bangsa Arab, khususnya mesir
dianggap sebagai bentuk penyelewengan dari ragam fushah. Sehingga sampai saat
ini ahasa amiyah mendominasi hampir seluruh ruang cakap pada tuturan bangsa
Arab karena mereka menganggap bahasa fushah sangat sulit untuk dipelajari dan
terlalu ketinggalan zaman karena berbeda dengan bahasa ibu mereka yaitu bahasa
amiyah.[8]
Studi ketimuran
bermanfaat jika digunakan dalam kegiatan perdagangan, misi, dan zending Kristen
di tengah-tengah kaum muslim. Karenanya, dalam pranata-pranata keagamaan,
seperti vatikan dan gereja-gereja besar, para pengikutnya di seluruh Eropa mulai
membuka sekolah-sekolah yang mengajarkan bahasa Arab pada biarawan-biarawan
penginjil. Para raja, gubernur, dan walikota diharuskan membuka sekolah-sekolah
yang mengajarkan bahasa-bahasa timur di setiap ibukota serta menetapkan
tenaga-tenaga pengajar yang ahli di universitas-universitas untuk pengajaran
bahasa timur. Hal itu mereka laksanakan dengan baik.[9]
Pada masa
al-Ma`mun lingkungan rasional siap menerima filsafat dan logika, lalu
pemiliknya mencarinya pada kaum muslimin di Andalusia. Menurut Daniel Morly,
mereka yang mencarinya itu adalah para filosof dunia yang paling bijaksana
karena institut-institut di Eropa tidak memuaskan keinginan mereka. Seperti
halnya Morly, Gerard of Cremona, orang Italia dia mempelajari sejumlah buku
yang berbahasa latin tentang berbagai cabang ilmu pengetahuan, tetapi
keinginannya pada kitab al-Magest yang tidak terdapat di kalangan orang-orang
latin mendorongnya pergi ke Toledo. Di tempat itu, dia melihat banyak sekali
buku berbahasa Arab dalam berbagai topik dan disiplin. Dia sangat prihatin atas
kemiskinan ilmiah latin. Untuk itu, dia memutuskan untuk belajar bahasa Arab agar
dapat menerjemahkan perbendaharaan ilmu tersebut ke dalam bahasa latin.[10]
D.
Tujuan
Orientalis Mempelajari Bahasa Arab
1.
Secara lahiriah
merupakan gerakan ilmiah dengan maksud mengadakan studi tentang warisan Timur (oriental
legacy), kepercayaan dan peradabannya.
2.
Untuk mengetahui
sumber-sumber warisan Islam, kemudian berusaha memalingkan pemiliknya dari
warisan tersebut dan bergantung kepada kebudayaan barat.
3.
Dengan tujuan
ilmu pengetahuan, perdagangan, agama, politik, dan penjajahan, dan menghancurkan
Islam dan umatnya. Dalam mencapai tujuan ini, mereka berusaha memutarbalikkan
hak dengan batil, merusakkan bahasa Arab fushhah yang dikatakan sudah
tidak relevan lagi di dunia modern sekarang ini.[11]
Tujuan para orientalis mempelajari bahasa Arab, ada yang
positif, mengabdikan dirinya untuk ilmu pengetahuan semata, dan ada pula yang
negatif, yaitu orientalis fanatik untuk memecah belah umat Islam dan
menghancurkan agamanya.[12]
E.
Terjemahan
Sumber-Sumber Utama Berbahasa Arab
Al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang
sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku
asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji
penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli.
Beliau mendirikan Bait al-Hikmah sebagi pusat penerjemahan yang
berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa
al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[13]
Salah satu ironi sejarah abad pertengahan di Barat adalah bahwa
pada saat yang sama ketika Perang Salib, dengan Petrus Sang Pertapa, Bernardus
dari Clairvoux, dan tokoh-tokoh lain mengkhotbahkan perlawanan terhadap Islam,
berlangsung di beberapa bagian Eropa, berlangsung pula pertukaran inteklektual
dan cultural antara kaum Muslimin dan umat Kristiani. Pada abad kedua
belas/keenam, di beberapa tempat seperti di Spanyol, berlangsung gerakan
seperti yang terjadi di Baghdad abad kesembilan/ketiga, yaitu gerakan
penerjemahan karya-karya filsafat dan sains agar dapat dijangkau oleh khalayak
baru. Bedanya, yang terjadi di Baghdad adalah penerjemahan dari bahasa Yunani
dan Persia ke bahasa Arab, sementara di Spanyol adalah penerjemahan dari bahasa
Arab ke bahasa Latin.[14]
Masalah utama yang dihadapi para sejarawan tentang tentara salib di
periode modern adalah kurangnya terjemahan sumber-sumber Islam ke dalam
bahasa-bahasa Eropa. Karya-karya yang diterjamahkan tersebut memang digunakan,
namun karya-karya lainnya masih tetap tidak bias diakses, dan masih terdapat
sangat banyak gambaran histiografis yang bersifat utuh mengenai suatu peristiwa
atau pemerintahan dari pihak umat Islam yang tidak bisa dipahami. Selain itu,
terjemahan yang telah dibuat kadang-kadang keliru, meskipun tentu saja bias
dikatakan bahwa “sekerat roti lebih baik daripada tidak sama sekali”. Adalah
bijak untuk mencermati seberapa sering buku-buku tentang perang salib dari
sudut pandang kaum muslim yang tersisa yang jumlahnya sedikit, yang sama
sedikitnya dengan sumber-sumber islam, telah digunakan lagi. Dengan demikian,
mempertimbangkan kembali sumber-sember utama itu maknanya akan jauh lebih
penting.[15]
Karena itu, adalah tugas mereka yang bisa membaca sumber-sumber Islam,
dan khususnya para sejarawan modern di timur tengah itu sendiri, untuk
menghasilkan karya, terjemahan dan analisis yang mendalam serta teliti mengenai
teks-teks tersebut, dan dengan demikian dapat memberikan kesempatan kepada
masyarakat yang lebih luas untuk memahami perspektif umat islam secara lebih
mendalam mengenai peristiwa perang salib. Periode mamluk sangat kaya dengan
bahan-bahan historiografis yang sering kali memuat petikan-petikan dari catatan
sebelumnya yang telah hilang.[16]
Titik awal yang berguna untuk contoh yang mengenai catatan-catatan
peristiwa yang berbahasa Arab adalah karya F. Gabrieli, Arab Historians of the
Crusades (London 1969). Namun petikan tersebut diterjemahkan dari bahasa Arab
ke dalam bahasa Italia dan baru kemudian ke dalam bahasa Inggris. Dengan
demikian, petikan tersebut sedikit menyimpang dari aslinya. Apalagi petikan
tersebut sering kali terlihat lebih sebagai sebuah ringkasan dari teks aslinya
daripada sebuah karya terjemahan yang sebenarnya. Dengan dasar pertimbangan
bahwa terjemahan adalah lebih baik daripada tidak ada sama sekali, Recueil Des
Historiens Des Croisades: Historiens Orientaux I-V (Paris, 1872-1906), (petikan
dalam bahasa arab yang diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis) yang banyak
dikritik masih berguna bagi mereka yang tidak bias berbahasa arab tapi bias
berbahasa Prancis, sekalipun banyak terdapat kesalahan penyuntingan dan
kesalahan penerjemahan. Pada daftar pustaka di akhir buku ini, pembaca bisa
melihat daftar yang lebih lengkap tentang sumber-sumber berbahasa Arab penting lainnya yang telah
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropa.[17]
F.
Tokoh dan
Pandangan Orientalis Terhadap Bahasa Arab
Orientalis Belanda, yang dalam bahasa Belanda dikenal
dengan dengan nama Van Erpe ini lahir pada 11 September 1584 di Gorkum, Belanda.
Dia menekuni teologi di Leiden. Kemudian dianjurkan oleh Scaliger agar
mempelajari bahasa Arab. Namun pada saat itu baik di Inggris maupun di Belanda
belum terdapat sekolah yang mengajarkan bahasa Arab.
Pada awal tahun 1709 dia pergi ke Paris untuk belajar
bahasa Arab kepada Stefanus Hubertus, seorang guru besar bahasa Arab di
Universitas Paris dan juga seorang dokter di istana Henry IV. Dia adalah sosok
ilmuwan yang gemar belajar bahasa Arab dan bahasa-bahasa Timur lain selama
menetap di dunia Timur. Selain belajar kepada Hubertusa dan Erpenius, dia juga
belajar bahasa Arab kepada pengawas perpustakaan kerajaan, Issac Casaubon
(1559-1614), seorang ilmuwan Yunani yang termasyhur pada masanya, dan dikenal
sebagai ensiklopedis yang menonjol. Casaubon melihat bakat dan potensi yang
besar pada diri Erpenius, oleh karena itu dia mengizinkan Erpenius menggunakan
literatur-literatur berbahasa Arab di perpustakaan yang dikelolanya. Diantara
sebagian literatur yang terdapat di dalam perpustakaan tersebut terdapat peninggalan
Hadenius Gyum, seorang mahasiswa kedokteran dari kota Vissingen, yang memiliki
kemmapuan bahasa Arab bagus, yang meninggal dunia di usia muda, tahun 1604.
Erpenius kemudian bekerja sama dengan salah seorang Mesir
Qibti yang tinggal di Paris, Yusuf bin Abi Daqd, yang dalam bahasa latin
dikenal dengan Joseph Barbatus Abudaacnus. Joseph menulis buku Historia
Jacobitarium Seu Coptorum in Aegypto. Buku ini telah diterbitkan di
berbagai tempat, antara lain di Oxford, 1675; di Lubeck, Jerman Utara, 1733;
dan di Leiden, 1740. Dampak dari pergaulan Erpenius dengan ilmuwan mesir ini
sangat terasa dalam meningkatkan penguasaan bahasa Arab baik lisan maupun
tulisan. Dalam masa sembilan bulan ia mampu menulis tugas akhir, risalah yang
diajukan kepada Bedwell dengan bahasa Arab Fusha, tentunya dengan
sedikit kesalahan tata bahasa dan bahasa di dalamnya. Risalahnya itu sudah
diterbitkan oleh M. T. Houtsma di Amsterdam.
Dari Paris kemudian ia meneruskan studi teologi ke
Saumur, Prancis Barat, pada bulan Nopember 1609, dan belajar selama satu tahun
disana. Setelah itu, Erpenius bertekad mendalami bahasa Arab dengan mempelajari
nahwu (semantik) dan sharaf (fonologi). Untuk itu, dia
mempelajari kaitab nahwu dan sharaf, seperti al-Ajuru- Amiyyah,
al-Kafiyah, dan al-’Awamil al-Mi’ah-nya al-Jurjani. Disamping
itu, dia juga mengkaji buku-buku lain yang berkaitan dengan bahasa Arab di
bawah bimbingan Issac Casaubon dan Hubertus.
Keseriusanya mempelajari bahasa Arab menjadikannya mampu
memahami rahasia-rahasia keindahan bahasa Arab, sehingga mampu merasakan
perbedaan-perbedaan antara bahasa Arab dengan Ibariyah. Dia juga menaruh
perhatian pada perbedaan antara bahasa Arab Fusha dengan bahasa Arab ’Ammiyah.
Hal tersebut telah mengilhaminya untuk menyusun kaidah-kaidah bahasa Arab
dengan susunan yang sistematis, atas dorongan dari Casaubon, dia mulai meneliti
dan mengumpulkan syair-syair yang beredar, namun tidak diketahui pengarangnya, hingga
mencapai 200 matsal (kata-kata mutiara, peribahasa). Kumpulan kata
mutiara ini menarik perhatian Fleurance yang mengasuh Raja Louis XIII di Roma,
dan meminta agar kumpulan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Setelah
kumpulan kata mutiara itu diterjemahkan, karya asli dan terjemahanya kemudian
di bawa Fleurance kepada Casaubon.
Setelah menerjemahkan 176 dari 200 kata mutiara tersebut,
dia meninggal dunia tahun 1609. Akhirnya Casaubon meminta Erpenius untuk
menerbitkan kumpulan kata mutiaranya tersebut beserta terjemahan latinya.
Kumpulan kata mutiara tersebut diterbitkan pada tahun 1615 dengan judul Arab
dan Latin; kitab al-amtsal, Seu Proverbiorum Arabicorum Centuriae Duae, Ab
Anomnymo Quodam Arabi Collectae et Expicate, Cum Interpretatione Latine et
Scholiis Los, Scaligeri Caes, F. Et Thomae Erpeni Leidae.
Buku tersebut mengalami cetak ulang sekaligus dengan
revisinya tahun 1623. Ketika Erpenius kembali ke Paris pada tahun 1610, dia
mendapati sejawatnya, Casaubon telah pindah ke London akibat pengkhoatanya
terhadap Henry IV. Demi kelangsungan penyebaran buku kumpulanya itu, ia pergi
ke Conflans pada musim panas tahun 1611. Disini ia bertemu dengan saudagar dari
Maroko bernama Ahmad bin Qasim al-Andalusi. Dari pertemuan tersebut, kesempatan
untuk berkomunikasi dengan bahasa Arab bersama orang muslim terbuka lebar,
bahkan untuk beberapa bulan mereka menghabiskan waktu di Paris untuk
memantapkan dialek bahasa Arab Maroko. Melalui saudagar muslim ini pula, Thomas
Erpenius untuk pertama kalinya berkenalan dengan hakikat iman dalam ajaran Islam,
serta posisi sunnah Nabi, di samping al-Qur`an dalam pembentukan akidah Islam.
Pada bulam Maret 1612 Erpenius pergi ke Bandaqia, namun
pada musim panas tahun yang sama dia kembali ke kampung halamanya di Belanda.
Pada saat yang bersamaan, di Universitas Laiden sedang dikaji pembentukan kajian
bahasa Arab, pada saat itu, ilmuwan yang pernah bertindak sebagai dosen bahasa
Arab ialah Johans Antonius, salah satu murid Franciscus Raghhelengius
(1539-1597).
Orientalis Belanda ini lahir di Chroningen, Belanda Utara
pada tahun 1686 dan meninggal dunia di Leiden pada 26 Juli 1750. Albert
Schultens bercita-cita menjadi pendeta yang menyebarkan injil. Untuk merealisasikanya,
dia sejak awal mulai mempelajari teologi serta bahasa Yunani, Ibrani, Kaldani,
dan Suryani. Tidak lama kemudian dia pergi ke Leiden untuk berkonsultasi dan
memperoleh nasihat dari Reelend. Setelah itu Schultes diangkat sebagai penyebar
inil di Wassenar pada tahun 1711.
Pada tahun 1713 Schultens diberi kehormatan sebagai guru
besar di bidang bahasa-bahasa Timur di Universitas Franaker. Lalu pada tahun
1729, dia ditunjuk sebagai guru besar bahasa-bahasa Timur diUniversitas Leiden.
Kemudian pada tahun 1740 dia menggabungkan divisi kajian bahasa-bahasa Timur
dengan divisi kajian klasik, sesudah penggabungan kedua kajian itu dia tetap
memegang kendali sebagai pengelolanya sampai Schultens meninggal pada tahun
1750.
Perjalanan ilmiahnya diawali dengan menyelesaikan tugas
akhir untuk meraih gelar sarjana tingkat pertama pada tahun 1706 di Universitas
Chroningen, dengan judul kajian teologis filologis; peran bahasa Arab
dalam memahami bahasa kitab suci (Ibrani). Karya pertamanya ini
dilampirkan kembali dalam buku karanganya Opera Omnia, yang diterbitkan
pada tahun 1764 (hlm. 487-510). Dalam buku tersebut disebutkan bahwa bahasa
Arab, Kaldan, Suryani, dan Habsyi merupakan rumpun dari bahasa atau dialek bahasa
Ibrani. Oleh karena itu, dia menganjurkan pemanfaatan lafal-lafal Ibrani yang
dipakai kitab suci. Untuk itu, Schultens mengemukakan 32 contoh kasus sebagai
bukti yang menunjukan efektivitas bahasa Arab. Dia mengatakan bahwa bahasa Arab
mampu menjelaskan masalah-masalah pelik dan rumit yang terdapat dalam kitab
suci. Dia tidak hanya menggunakan bahasa Arab untuk memahami kitab suci, tetapi
juga memanfaatkan bahasa Arab untuk menerangkan lembaran Ayyub dan
lembaran-lembaran dari Amtsali Sulaiman. Kedua keteranganya itu
dituangkan dalam buku pertama, lembaran Ayyub dengan terjemahan Latin
yang didasarkan pada bahasa Ibrani, beserta penjelasanya (Leiden, 1737). Buku kedua
ialah Amtsali Sulaiman, terjemah lengkap dari bahasa Ibrani dan
penjelasanya (Leiden, 1748).
Schultens menyatakan bahwa asal usul bahasa Arab dapat
dilacak sampai pada masa Nabi Sulaiman, bahkan sampai masa Nabi Musa. Dia
menegaskan bahwa bahasa yang digunakan oleh Yarh bin Yaqthan ialah bahasa
Ya’rib bin Qathan, yang berarti bahwa asal mula bahasa Ibrani adalah bahasa
Arab, seperti yang dipakai oleh Ismail, tokoh suku Acrab Utara. Schuktens
berupaya mempertahankan pendapatnya itu dalam berbagai kajian, terutama dalam
karyanya yang diberi judul Asal Usul Bahasa ArabI yang Paling Awal, di
dalamnya terdapat contoh-contoh bahasa Arab kuno yang diambil dari
manuskrip-manuskrip karya an-Nawiri, al-Masudi, Abu al-Fida, dan al-Hamsah
(Leiden,1740).
Keberadaan karya Schultens tersebut tidak terlepas dari
berbagai kritik yang dilontarkan oleh para kritikus bahasa dan juga para ahli
bahasa. Diantaranya, adalah kritik yang dikemukakan oleh Gousset, antara
keduanya terjadi polemik hebat. Untuk menangkis semua kritik yang diarahkan
kepadanya, Schultens menulis sebuah buku yang cukup tebal berjudul Origines
Hebrae, dalam dua jilid (Franaker, 1724 dan 1738). Dalam buku tersebut
dinyatakan bahwa bahasa Ibrani bukanlah bahasa yang ditentukan Tuhan atau
bahasa Ilahi, seperti yang diyakini saat itu, tetapi lebih mendekati dengan
bahasa-bahasa semit lain.
Selain karya-karya Schultens yang berkaitan dengan bahasa
Ibrani dan semua bahasa-bahasa Semit, ia
lebih menonjolkan penggunaan bahasa Arab. Oleh karena itu, Schultens menulis
sejumlah buku yang cenderung pada penggunaan bahasa Arab untuk memahami
istilah-istilah rumit yang terdapat dalam kitab suci. Untuk kepentingan itu ia
menerbitkan beberapa buku, antara lain:
1.
Buku an-nahwu al-’Arobi Thomas Erpenius
pada tahun 1733-1748 yang dilengkapi dengan qasidah dan amtsal pilihan
berdasarkan sumber dari Hamasahnya Abi Tamam
2.
Terjemahan
bagian ketiga dari maqamatnya al-Hariri dakam bahasa Latin.
3.
Terjemahan buku
biografi Sholah ad-Dinnya Baha ad-Din pada tahun 1733.
4.
Uraian atas
lembaran Ayyub
5.
Asal usul
bahasa Arab yang paling awal.
6.
Amtsal Sulaiman diterbitkan
pada tahun 1748
Schultens memiliki anak sekaligus cucu juga berprofesi
sebagai ilmuwan, bernama Jean Jacques, yang lahir di Franaker pada tahun 1716,
dan meninggal di Leiden pada 27 November 1778. Dia menjadi guru besar dalam
bidang teologi dan divisi bahasa-bahasa Timur di Universitas Herborn pada tahun
1742, dan di Leiden pada tahun 1749. Di samping sebagai seorang ilmuwan, dia
memiliki sejumlah karya ilmiah dalam bidangnya.
Sedangkan cucunya ialah Henny Albert, yang dilahirkan di
Herbom pada 15 Februari 15 Januari 1719 dan meninggal di Leiden pada 12 Juli
1793. Dia pergi ke Inggris untuk meneliti manuskrip-manuskrip Arab
diperpustakaan Badlwy, Ocxford dan menerbitkan buku Mukhtarat min Amtsal
al-Maidani (London, 1773), Cetakan ulang dilakukan oleh Pococke. Ketika
kembali dari Inggris dia diangkat sebagai guru besar bidang kajian
bahasa-bahasa Timur di Universitas Amsterdam pada tahun 1774. Kemudian, pada
awal Maret 1778 dia diangkat sebagai guru besar bahasa-bahasa Timur di
Universitas Leiden pada tahun 1787. Dia meninggal ketika sedang menyiapkan
tulisan lengkap tentang al-Amtsal al-Maidani. Selain itu, dia juga telah
menyiapkan sejumlah manuskrip Arab yang amat bernilai, yang kemudian, paada
tahun 1808 dibeli oleh perpustakaan Universitas Leiden dari keluarganya.
Diantara karya-karyanya yang terpenting adalah Mukrtarat
min Amtsal al-’Arobiyyah, memuat 285 kata-kata mutiara yang ditulis oleh
Az-Zamaksyari. Manuskrip kumpulan kata-kata mutiara tersebut masih tersimpan di
Universitas Leiden, dan kalilah Amtsal al-Dimnah, dalam teks Arab
(1786), terjemahan beberapa bagian dari Amtsal al-Maidani, yang diterbitkan
setelah ia meninggal dunia, oleh M.G Schroder (Leiden, 1795).
Kenyataan tersebut telah menunjukkan bahwa Schultens
termasuk dari keluarga ilmuwan yang telah banyak menyumbangkan karya-karya
ilmiah bagi dunia ilmu.
BAB III
KESIMPULAN
Bahasa Arab
dipelajari para orientalis, sejak abad
XI M dan merupakan jembatan menyelidiki dan meneliti ilmu pengetahuan Timur. Para
orientalis menyadari bahwa bahasa Arab adalah satu-satunya alat penyebaran
pemikiran dan nilai-niali Islam ke seluruh pelosok dunia. Sebab, sekalipun
seseorang bukan berbangsa Arab, namun karena Ia seorang Muslim, mereka merasa
berkewajiban mempelajari bahasa Arab dalam rangka mengkaji kandungan al-Qur`an.
Dengan demikian, meskipun setiap bangsa mempunyai dialek masing-masing, namun
dalam penulisan mereka dapat saling mengerti karena dalam penulisan digunakan
bahasa Arab fasih.
Tidak hanya
pengaruh negatif yang orientalis berikan, ada juga hal-hal positif yang dapat
kita nikmati sampai saat ini, salah satunya adalah kitab-kitab ilmiah yang
mereka terjemahkan dari bahasa Arab ke bahasa mereka. Diantara oriaentalis yang
berpengaruh dalam bidang ini adalah: Albert Schultens dan Thomas Erpenius.
DAFTAR PUSTAKA
Assamurai, Qasim, Bukti-Bukti Kebohongan Orientalis,
terj. dari Al-Istisraqu Baina al-Maudhu’iyyati wa al-Ifti’aliyyah oleh Syuhudi
Ismail, Jakarta: Gema Insani Press, 1996
Badawi, Abdurrahman,
Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. dari Maushu’ah al-Mustasyriqin oleh
Amroini Drajat, Yogyakarta: LKiS, 2003
Buchari, Manna,
Menyingkap Tabir Orientalisme, Amzah: Jakarta, 2006
Hillenbrand,
Carole, Perang Salib Sudut Pandang Islam, terj. Heryadi, Jakarta: PT. Serambi Ilmu
Semesta, 2007
Hidayat
Pabbajah, M. Taufiq, Usaha-Usaha Orientalis dalam Mendestruktifkan Bahasa
Arab, https://addankpabbajah.wordpress.com/2014/07/08/usaha-usaha-orientalis-dalam-mendestruktifkan-bahasa-arab, diakses tanggal 18
Oktober 2015
Goddard,Hugh, Sejarah Perjumpaan
Islam-Kristen, terj. Zaimuddin dan Zaimul Am, PT Serambi Ilmu Semesta:
Jakarta, 2013
Mustafa
Al-A'zami, Muhammad, The History of The Qur'anic Text, From Revelation to
Compilation terj. Sejarah Teks Al-Quran-Dari Wahyu Sampai Kompilasinya
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban
Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994
[1] Muhammad
Mustafa Al-A'zami, The History of The Qur'anic Text, From Revelation to
Compilation terj. Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya,
h. 129-142
[2]
Muhammad
Mustafa Al-A'zami, The History of The Qur'anic Text, From Revelation to
Compilation terj. Sejarah Teks Al-Quran - Dari Wahyu Sampai Kompilasinya,
h. 129-142.
[3]
Manna Buchari, Menyingkap
Tabir Orientalisme, (Amzah: Jakarta, 2006), cet. ke-1, h. 95
[4] Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), cet. ke-2, h.
87
[5] Qasim
Assamurai, Bukti-Bukti Kebohongan Orientalis, terj. dari Al-Istisraqu
Baina al-Maudhu’iyyati wa al-Ifti’aliyyah oleh Syuhudi Ismail (Jakarta:
Gema Insani Press, 1996). Cet. ke-1, h. 32
[6] M. Taufiq
Hidayat Pabbajah, Usaha-Usaha Orientalis dalam Mendestruktifkan Bahasa Arab,
https://addankpabbajah.wordpress.com/2014/07/08/usaha-usaha-orientalis-dalam-mendestruktifkan-bahasa-arab,
diakses tanggal 18 Oktober 2015
[7] M. Taufiq
Hidayat Pabbajah, Usaha-Usaha Orientalis dalam Mendestruktifkan Bahasa Arab,
https://addankpabbajah.wordpress.com/2014/07/08/usaha-usaha-orientalis-dalam-mendestruktifkan-bahasa-arab,
diakses tanggal 18 Oktober 2015
[8] M. Taufiq
Hidayat Pabbajah, Usaha-Usaha Orientalis dalam Mendestruktifkan Bahasa Arab,
https://addankpabbajah.wordpress.com/2014/07/08/usaha-usaha-orientalis-dalam-mendestruktifkan-bahasa-arab,
diakses tanggal 18 Oktober 2015
[9] Qasim
Assamurai, Bukti-Bukti Kebohongan Orientalis, terj. dari Al-Istisraqu
Baina al-Maudhu’iyyati wa al-Ifti’aliyyah oleh Syuhudi Ismail , Cet. ke-1,
h. 33
[10] Qasim
Assamurai, Bukti-Bukti Kebohongan Orientalis, terj. dari Al-Istisraqu
Baina al-Maudhu’iyyati wa al-Ifti’aliyyah oleh Syuhudi Ismail , Cet. ke-1,
h. 94
[11] Manna Buchari,
Menyingkap Tabir Orientalisme, (Amzah: Jakarta, 2006), cet. ke-1, h. 93
[12]
Manna Buchari, Menyingkap
Tabir Orientalisme, cet. ke-1, h. 96
[13]
Badri Yatim, Sejarah
Peradaban Islam, cet. ke-2, h. 53
[14] Hugh Goddard, Sejarah
Perjumpaan Islam-Kristen, terj. Zaimuddin dan Zaimul Am, (PT Serambi Ilmu
Semesta: Jakarta, 2013), cet. ke-1, h. 191-192
[15] Carole
Hillenbrand, Perang Salib Sudut Pandang Islam, terj. Heryadi, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu
Semesta, 2007), cet. ke- 7, h. 18-19
[16] Carole
Hillenbrand, Perang Salib Sudut Pandang Islam, terj. Heryadi, cet. ke-
7, h. 19
[17]Carole
Hillenbrand, Perang Salib Sudut Pandang Islam, terj. Heryadi, cet. ke-
7, h. 19-20
[18] Abdurrahman
Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. dari Maushu’ah
al-Mustasyriqin oleh Amroini Drajat, (Yogyakarta: LKiS, 2003), Cet-ke 1, h.
6-8
[19]
Abdurrahman
Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, terj. dari Maushu’ah
al-Mustasyriqin oleh Amroini Drajat, h.13-15
Tidak ada komentar:
Posting Komentar